Rupiah melemah 0,75% ke Rp18.073 per dolar AS pada 16 Oktober 2026, menurut RMOL. Saat rupiah terus melemah, muncul godaan untuk simpan dolar demi melindungi tabungan. Sebelum melakukannya, ada biaya dan risiko yang perlu dihitung.
Kapan simpan dolar punya alasan
Menyimpan dolar paling masuk akal bila Anda punya kebutuhan nyata dalam dolar dalam beberapa bulan atau tahun ke depan, misalnya:
- Biaya kuliah atau kursus di luar negeri.
- Rencana perjalanan atau ibadah ke luar negeri.
- Pembelian barang atau bahan impor untuk usaha.
- Cicilan atau tagihan dalam mata uang asing.
Dalam semua contoh itu, jumlah dan waktunya bisa dihitung dengan cukup jelas. Dalam kasus seperti ini, membeli dolar secara bertahap mengurangi risiko kurs bergerak makin jauh saat dana dibutuhkan. Rencana perjalanan saat rupiah melemah kami bahas dalam liburan ke luar negeri.
Bila tidak ada kebutuhan dalam dolar, menyimpan dolar menjadi taruhan arah kurs, sama seperti membeli aset lain yang harganya naik turun setiap hari. Ekonom CORE pada Juli 2026 sempat menyebut kisaran Rp17.500-Rp18.000 sebagai keseimbangan baru, menurut Bisnis.com, tetapi rupiah kemudian bergerak di luar kisaran itu. Taruhan ini bisa benar, bisa juga salah.
Biaya selisih kurs (angka ilustrasi)
Bank dan tempat penukaran membeli dolar dari Anda dengan kurs lebih rendah daripada saat menjual. Selisih ini langsung menjadi biaya.
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Dana awal | Rp18.000.000 |
| Kurs jual bank | Rp18.150 per dolar |
| Dolar yang didapat | ±US$991,74 |
| Kurs beli bank bila langsung dijual kembali | Rp17.950 per dolar |
| Rupiah yang kembali | ±Rp17.802.000 |
| Biaya selisih kurs | ±Rp198.000 (1,1%) |
Dalam contoh ini, Anda baru untung bila kurs beli bank naik lebih dari sekitar 1,1% dari posisi awal. Selisih kurs uang kertas di tempat penukaran biasanya lebih lebar dibanding transaksi di rekening bank.
Ada juga biaya peluang. Bunga tabungan valas umumnya lebih rendah daripada beberapa instrumen rupiah, seperti yang kami bandingkan dalam reksa dana pasar uang atau deposito.
Dua skenario setahun kemudian (angka ilustrasi)
Misalkan Anda menukar Rp18 juta ke dolar di kurs jual Rp18.150 dan mendapat sekitar US$991,74, lalu menyimpannya setahun di tabungan valas dengan bunga kecil yang diabaikan dalam contoh ini.
| Skenario kurs beli bank setahun kemudian | Nilai dolar dalam rupiah | Hasil dibanding dana awal |
|---|---|---|
| Rupiah menguat ke Rp17.000 | ±Rp16.860.000 | Rugi ±Rp1.140.000 |
| Rupiah melemah ke Rp19.500 | ±Rp19.339.000 | Untung ±Rp1.339.000 |
Hasilnya bergantung sepenuhnya pada arah kurs, yang tidak bisa dipastikan. Bandingkan dengan menyimpan Rp18 juta di instrumen rupiah berbunga, yang hasilnya lebih bisa diperkirakan meski tidak melindungi dari pelemahan rupiah.
Bila Anda punya kebutuhan dolar setahun lagi, skenario rugi tadi tidak terlalu penting, karena dolar memang akan dipakai. Bila tidak, Anda sedang menanggung risiko kurs tanpa alasan yang jelas.
Pilihan tempat menyimpan dolar
- Tabungan valas di bank. Mudah dicairkan, bunganya rendah. Cek biaya administrasi bulanan dan saldo minimum.
- Deposito valas. Bunga sedikit lebih tinggi, tetapi dana terkunci sesuai tenor. Pencairan sebelum jatuh tempo bisa dikenai penalti.
- Reksa dana berdenominasi dolar. Nilainya bergerak sesuai aset di dalamnya, sehingga ada risiko harga selain risiko kurs.
- Uang tunai. Paling mudah, tetapi berisiko hilang, tidak berbunga, dan selisih kursnya paling lebar.
Untuk simpanan di bank, perhatikan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan. Simpanan valas di bank peserta bisa dijamin bila memenuhi syarat, termasuk bunga yang tidak melebihi tingkat bunga penjaminan valas. Ketentuan terbarunya ada di situs LPS.
Risiko membeli dolar karena panik
Kurs bisa berbalik. Bank Indonesia aktif melakukan intervensi lewat pasar spot, NDF, dan DNDF serta membeli SBN, dengan cadangan devisa US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Bila rupiah menguat, nilai dolar Anda dalam rupiah turun.
Membeli di harga tinggi. Saat banyak orang panik membeli dolar, kurs jual di tempat penukaran sering naik lebih cepat daripada kurs resmi. Rupiah pertama kali menembus Rp18.000 pada 29 September 2026, menurut RRI, dan pergerakan setelahnya tidak bisa ditebak.
Dana darurat terkunci di valas. Kebutuhan sehari-hari dibayar dalam rupiah. Bila dana darurat disimpan dalam dolar, Anda menanggung risiko kurs saat butuh mencairkan.
Biaya tersembunyi. Sebagian tabungan valas mengenakan biaya administrasi bulanan dan biaya tarik tunai dalam bentuk uang kertas asing. Untuk saldo kecil, biaya ini bisa menghabiskan bunganya.
Penipuan valas. Tawaran "investasi dolar" dengan imbal hasil tetap tinggi atau trading valas lewat akun tidak resmi patut dicurigai.
Pengaruh rupiah lemah pada harga barang sehari-hari kami uraikan dalam rupiah melemah. Emas sebagai alternatif lindung nilai juga punya selisih jual-beli sendiri, seperti dalam harga emas Pegadaian vs Logam Mulia.
Contoh membeli dolar bertahap (angka ilustrasi)
Seseorang butuh US$3.000 untuk biaya kursus di luar negeri enam bulan lagi. Daripada membeli sekaligus, ia membeli US$500 setiap bulan selama enam bulan.
Dengan cara ini, kurs rata-rata pembeliannya mengikuti pergerakan selama enam bulan, bukan satu hari tertentu. Bila kurs naik, ia sudah memegang sebagian dolar di harga lebih rendah. Bila kurs turun, pembelian berikutnya menjadi lebih murah. Cara ini tidak menjamin kurs terbaik, tetapi mengurangi risiko membeli seluruhnya di hari yang paling mahal.
Cara memutuskan porsinya
- Hitung kebutuhan dolar yang nyata beserta waktunya.
- Pisahkan dana darurat dalam rupiah, cukup untuk beberapa bulan pengeluaran.
- Beli bertahap sesuai jadwal kebutuhan, bukan sekaligus saat kurs sedang ramai dibicarakan.
- Bandingkan selisih kurs di beberapa bank sebelum membeli.
- Tuliskan alasan Anda membeli agar tidak tergoda menjual atau membeli lagi hanya karena pergerakan harian.
Sebelum membuka tabungan valas, tulis untuk apa dolar itu akan dipakai dan kapan; bila tidak ada jawabannya, tahan dulu keputusan Anda.



