Mulai Senin, 19 Oktober 2026, harga saham di Bursa Efek Indonesia hanya bisa turun maksimal 7% dalam sehari, bukan 15% seperti sebelumnya. Batas ARB yang baru ini berlaku hingga 31 Desember 2026 dan diambil setelah IHSG anjlok 11,57% pada Jumat lalu.
Isi aturan batas ARB terbaru
Perubahan ini tertuang dalam Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 yang menggantikan Kep-00136/BEI/09-2026, menurut Kontan. Kebijakan ini mendapat dukungan OJK dan akan dievaluasi secara berkala.
| Rentang harga saham | ARA | ARB baru | ARB sebelumnya |
|---|---|---|---|
| Rp1-Rp10 | Rp1 | Rp1 | Rp1 |
| Rp11-Rp200 | 35% | 7% | 15% |
| Di atas Rp200-Rp5.000 | 25% | 7% | 15% |
| Di atas Rp5.000 | 20% | 7% | 15% |
Batas kenaikan harian (ARA) tidak berubah. Yang dipersempit hanya batas penurunan, sehingga aturan ini kembali bersifat asimetris: saham bisa naik lebih jauh daripada turun dalam sehari.
Kenapa BEI mengubahnya sekarang
Pada 16 Oktober 2026, IHSG turun 11,57% ke 5.185,10, perdagangan sempat dihentikan 30 menit, dan investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp3,4 triliun. Pemicunya usulan MSCI menurunkan status pasar Indonesia, yang kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.
BEI menyatakan penyesuaian ini bertujuan menjaga perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien, serta meredam volatilitas, menurut Republika. Dengan batas 7% per saham, IHSG secara praktis sulit menyentuh ambang *trading halt* 8% dalam sehari, menurut Katadata. Riwayat penghentian perdagangan kami bahas dalam IHSG pernah dihentikan 10 kali.
DPR juga meminta BEI melakukan perbaikan dengan mengakomodasi masukan dari lembaga penyusun indeks internasional, menurut RMOL. Penyesuaian ARB menjadi salah satu langkah cepat yang bisa diambil bursa sambil menunggu reformasi yang lebih mendasar.
Langkah serupa pernah diambil sebelumnya. Saat pandemi 2020, BEI juga mempersempit batas penurunan harian untuk meredam kepanikan.
Contoh hitungan batas harga (angka ilustrasi)
Misalkan sebuah saham ditutup Rp1.000 dan terus ditekan jual selama tiga hari berturut-turut.
| Hari | Harga terendah dengan ARB 15% | Harga terendah dengan ARB 7% |
|---|---|---|
| Penutupan awal | Rp1.000 | Rp1.000 |
| Hari 1 | Rp850 | Rp930 |
| Hari 2 | ±Rp723 | ±Rp865 |
| Hari 3 | ±Rp614 | ±Rp804 |
| Total penurunan | ±38,6% | ±19,6% |
Dengan batas 7%, penurunan yang sama "dicicil" lebih lama. Saham yang dulu bisa turun hampir 40% dalam tiga hari kini paling dalam turun sekitar 20% dalam periode yang sama. Harga sebenarnya akan dibulatkan sesuai fraksi harga yang berlaku.
Cara menghitung batas bawah saham Anda
- Lihat harga penutupan saham pada hari sebelumnya di aplikasi sekuritas.
- Kalikan harga itu dengan 0,93 untuk mendapatkan perkiraan harga terendah yang bisa terjadi esok hari.
- Sesuaikan dengan fraksi harga. Saham di rentang harga tertentu bergerak per Rp1, Rp2, Rp5, atau kelipatan lain, sehingga angka akhirnya bisa sedikit berbeda.
- Kalikan selisih harga dengan jumlah lembar yang Anda pegang untuk mengetahui potensi penurunan nilai maksimal dalam sehari.
Sebagai contoh, bila Anda memegang 10 lot (1.000 lembar) saham seharga Rp2.500, batas bawah esok hari sekitar Rp2.325. Penurunan nilai maksimal dalam sehari sekitar Rp175.000.
Yang tidak berubah
Aturan ini hanya mengubah batas penurunan harian. Batas ARA, jam perdagangan, dan ambang *trading halt* IHSG, yaitu 8%, 15%, dan suspensi di atas 20%, tidak diubah dalam SK ini. Saham yang diperdagangkan di papan atau mekanisme khusus bisa punya ketentuan sendiri, jadi cek pengumuman BEI untuk saham tersebut.
Saham yang disuspensi tetap tidak bisa diperdagangkan, berapa pun batas ARB yang berlaku.
Dampak bagi pemegang saham
Penurunan harian lebih terbatas. Nilai portofolio tidak bisa anjlok sedalam sebelumnya dalam satu hari, sehingga kepanikan sesaat lebih terkendali.
Antrean jual bisa menumpuk. Bila banyak investor ingin menjual sementara harga sudah di batas bawah, antrean jual di harga ARB bisa panjang dan tidak semuanya terisi. Anda mungkin perlu beberapa hari untuk benar-benar keluar dari saham yang sedang tertekan.
Penurunan bisa berlangsung lebih lama. Batas yang lebih sempit tidak menghapus tekanan jual, hanya membaginya ke beberapa hari.
Margin call bertahap. Bagi pengguna fasilitas margin, penurunan yang lebih lambat memberi waktu tambahan untuk menambah jaminan, tetapi tekanan bisa berlanjut beberapa hari. Mekanismenya kami jelaskan dalam margin call.
Order jual perlu disesuaikan. Bila Anda memasang order jual di bawah batas 7%, sistem akan menolaknya. Sesuaikan harga order dengan batas yang baru agar tidak gagal masuk antrean.
Kenaikan tetap bisa tajam. Karena ARA tidak berubah, saham yang memantul bisa naik jauh lebih tinggi dalam sehari dibanding batas turunnya.
Bagaimana dengan rencana ARB 2027
Sebelumnya, BEI menjadwalkan batas ARB kembali sama dengan ARA mulai 1 Januari 2027, seperti yang kami bahas dalam aturan ARB baru. SK baru menggantikan SK September 2026 yang memuat jadwal itu.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada penjelasan resmi apakah rencana tersebut tetap berjalan, diundur, atau diubah. BEI hanya menyatakan aturan 7% berlaku hingga 31 Desember 2026 dan akan dievaluasi. Pantau pengumuman BEI menjelang akhir tahun.
Risiko yang perlu dipahami
Rasa aman yang semu. Batas harian yang sempit tidak berarti risiko berkurang. Saham yang fundamentalnya bermasalah tetap bisa turun jauh, hanya lebih lambat.
Sulit menjual saat dibutuhkan. Dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat sebaiknya tidak diletakkan di saham yang sedang tertekan, karena antrean jual bisa membuat dana tertahan.
Perubahan aturan mendadak. Aturan ini bersifat sementara dan bisa diubah lagi sesuai kondisi pasar.
Tidak mengubah penyebab. Isu MSCI dan arus dana asing tetap menjadi faktor utama. Perbandingan dengan krisis sebelumnya ada di IHSG jatuh terdalam sejak 1998.
Hari ini, cek harga penutupan saham yang Anda pegang dan hitung batas bawah 7%-nya, agar Anda tahu seberapa jauh harga bisa bergerak besok.



