Penghentian perdagangan pada 16 Oktober 2026 bukan yang pertama di Bursa Efek Indonesia. Sejak Maret 2020, trading halt IHSG sudah terjadi sedikitnya sepuluh kali, dan cerita setelahnya tidak selalu sama.

Daftar trading halt IHSG sejak 2020

Trading halt di Bursa Efek Indonesia, 2020-2026 (sumber: Investor Trust, Bareksa, Katadata, CNBC Indonesia, Detik)
TanggalPemicu utamaPenurunan saat halt
12 Maret 2020Pandemi Covid-19sekitar 5%
17 Maret 2020Pandemi Covid-19sekitar 5%
19 Maret 2020Pandemi Covid-19sekitar 5%
23 Maret 2020Pandemi Covid-19sekitar 5%
10 September 2020PSBB Jakarta diperketatsekitar 5%
18 Maret 2025Kekhawatiran fiskal dan aksi jualsekitar 5%
8 April 2025Tarif impor Amerika Serikat9,19% saat pembukaan
28 Januari 2026Keputusan MSCI soal free floatsekitar 8%
29 Januari 2026Lanjutan tekanan MSCIsekitar 8%
16 Oktober 2026Usulan MSCI soal status pasar8,01% saat pembukaan

Investor Trust mencatat enam kali halt hingga Maret 2025. Empat kejadian berikutnya kami tambahkan dari pemberitaan media pada tanggal masing-masing.

Apa yang terjadi selama halt

Selama 30 menit halt, seluruh perdagangan saham di bursa berhenti. Investor tidak bisa membeli atau menjual, dan indeks tidak bergerak. Setelah jeda berakhir, perdagangan dibuka kembali dengan jadwal sesi yang sama.

Tujuannya memberi waktu bagi investor untuk mencerna informasi dan mengurangi penjualan karena panik. Dalam praktiknya, jeda ini tidak selalu menghentikan penurunan. Pada 16 Oktober 2026, IHSG dibuka turun 8,01%, lalu setelah halt masih melemah hingga ditutup turun 11,57%.

Pemicu masing-masing peristiwa

Halt pada 2020 dipicu kepanikan global akibat pandemi. Bursa di banyak negara mengalami hal serupa pada pekan-pekan yang sama.

Halt 8 April 2025 terjadi pada hari perdagangan pertama setelah libur Lebaran, ketika pasar menanggapi pengumuman tarif impor Amerika Serikat sebesar 32% untuk Indonesia. IHSG ditutup turun 7,9% ke 5.996,14, menurut Katadata.

Tiga halt terakhir berkaitan dengan MSCI. Pada 28 Januari 2026, perdagangan dihentikan pukul 13.43 setelah MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks untuk Indonesia, menurut CNBC Indonesia. Halt 16 Oktober dipicu usulan MSCI menurunkan Indonesia ke *standalone market*, yang kronologinya kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.

Perubahan aturan ambang batas

Pada Maret 2020, BEI memakai ambang 5%: penurunan 5% memicu halt 30 menit, dan penurunan lebih lanjut bisa berujung suspensi. Ambang ini membuat halt sering terjadi saat pasar sangat bergejolak.

Pada 8 April 2025, BEI menaikkan ambang menjadi 8% untuk halt pertama, 15% untuk halt kedua, dan lebih dari 20% untuk suspensi perdagangan. Pada hari yang sama, batas bawah harga saham harian juga dilonggarkan. Batas harian terbaru kami jelaskan dalam aturan ARB baru.

Karena ambangnya berbeda, jumlah halt sebelum dan sesudah April 2025 tidak bisa dibandingkan langsung. Penurunan 5% yang dulu memicu halt kini tidak lagi menghentikan perdagangan.

Pergerakan IHSG setelahnya (data, bukan prediksi)

Maret 2020. Setelah empat halt dalam dua pekan, IHSG masih turun ke titik terendah 3.937,63 pada 24 Maret 2020. Indeks kemudian pulih bertahap dan kembali di atas 6.000 pada akhir Desember 2020, menurut IDX Channel. Pemulihan itu didukung stimulus besar di dalam dan luar negeri.

April 2025. Setelah halt pada pembukaan, IHSG ditutup 5.996,14. Tekanan mereda setelah Amerika Serikat menunda sebagian tarifnya beberapa hari kemudian.

Januari 2026. Halt dua hari berturut-turut terjadi saat IHSG masih di sekitar level 8.000-an. Pada 9 Oktober 2026, sebelum usulan MSCI terbaru, IHSG berada di 6.093,76. Artinya, penurunan berlanjut berbulan-bulan setelah halt Januari.

Oktober 2026. IHSG ditutup 5.185,11 pada hari halt, turun 11,57%. Ringkasan sepekan ada di Bursa Sepekan.

Risiko membaca sejarah sebagai jaminan

Tiga episode di atas menunjukkan tiga jalur berbeda: turun lebih dalam lalu pulih, mereda dalam hitungan hari, dan turun berkepanjangan. Pemicunya menentukan jalurnya.

Pandemi dan tarif adalah guncangan dari luar yang kemudian ditanggapi kebijakan besar. Isu MSCI berkaitan dengan struktur pasar Indonesia sendiri, seperti transparansi kepemilikan, yang perbaikannya butuh waktu lebih lama. Karena itu, anggapan bahwa pasar pasti cepat pulih setelah halt tidak didukung data.

Data di atas juga hanya mencatat indeks. Saham individual bisa bergerak sangat berbeda dari IHSG, baik lebih baik maupun lebih buruk.

Pelajaran bagi investor ritel

Halt dirancang untuk memberi jeda, bukan untuk menghentikan penurunan. Gunakan jeda itu untuk memeriksa posisi, bukan untuk mengambil keputusan tergesa-gesa.

Yang lebih menentukan adalah kondisi keuangan pribadi saat pasar jatuh: apakah dana darurat terpisah dari saham, apakah ada utang margin, dan apakah jangka waktu investasi masih sesuai. Arti usulan MSCI bagi investor ritel kami bahas dalam evaluasi MSCI.

Catat pemicu penurunan kali ini dan bandingkan dengan tabel di atas sebelum menyimpulkan bahwa pasar akan bergerak seperti episode sebelumnya.