Dana pasif tidak pernah bertanya apakah sebuah saham murah atau mahal. Dana ini hanya mengikuti indeks. Itulah sebabnya satu pengumuman penyusun indeks seperti MSCI bisa membuat dana global bernilai besar keluar dari pasar saham Indonesia dalam waktu singkat.
Apa itu dana pasif
Dana pasif adalah dana investasi yang meniru isi dan bobot sebuah indeks. Bila sebuah saham berbobot 5% di indeks, dana tersebut memegang saham itu sekitar 5% dari portofolionya. Manajer dana tidak memilih saham sendiri.
Keunggulannya biaya rendah dan hasil yang mendekati indeks. Karena itu, dana jenis ini berkembang pesat di dunia, dan banyak di antaranya mengacu pada indeks MSCI, termasuk indeks *emerging market* yang di dalamnya ada saham Indonesia.
Kebalikannya adalah dana aktif, yang dikelola manajer investasi dengan memilih saham sendiri berdasarkan analisis.
Cara kerja ETF dan reksa dana indeks
Dua bentuk yang paling umum:
- **ETF (*exchange traded fund*)** diperdagangkan di bursa seperti saham. Harganya bergerak sepanjang jam perdagangan.
- Reksa dana indeks dibeli dan dijual melalui manajer investasi atau agen penjual, dengan harga NAB yang dihitung sekali sehari.
Di Indonesia, ada ETF dan reksa dana indeks yang mengacu pada indeks lokal maupun indeks MSCI. Salah satu contohnya ETF yang mengacu pada indeks MSCI Indonesia, yang tercatat aktif di KSEI.
Rebalancing: saat indeks berubah
Penyusun indeks meninjau isi indeksnya secara berkala. Saat ada saham yang masuk, keluar, atau berubah bobot, dana pengikut indeks wajib menyesuaikan portofolionya. Proses ini disebut rebalancing.
Saat MSCI mengeluarkan beberapa saham besar Indonesia dari indeks utamanya pada Mei 2026, analis memperkirakan arus keluar dana pasif sekitar US$1 miliar hingga US$1,7 miliar, menurut Bareksa dan Bisnis.com.
Usulan MSCI pada 15 Oktober 2026 jauh lebih besar dampaknya bila diputuskan: Indonesia bisa keluar seluruhnya dari indeks *emerging market*, sehingga dana pasif yang mengacu indeks itu tidak lagi perlu memegang saham Indonesia sama sekali. Keputusan finalnya paling lambat 30 Juni 2027. Kronologinya kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.
Contoh: dari bobot indeks ke penjualan (angka ilustrasi)
Misalkan total dana global yang mengikuti sebuah indeks *emerging market* bernilai US$500 miliar, dan Indonesia berbobot 1,5% di indeks itu.
| Keterangan | Bobot Indonesia 1,5% | Bobot turun ke 1,2% | Indonesia keluar dari indeks |
|---|---|---|---|
| Porsi saham Indonesia yang dipegang | US$7,5 miliar | US$6 miliar | US$0 |
| Perkiraan penjualan | - | US$1,5 miliar | US$7,5 miliar |
Penjualan ini terjadi bukan karena pengelola dana menilai saham Indonesia mahal, melainkan karena aturan dananya mengharuskan portofolio mengikuti indeks. Penjualan biasanya dipusatkan menjelang tanggal efektif perubahan indeks.
Angka di atas hanya ilustrasi. Besaran dana yang benar-benar mengikuti indeks MSCI dan bobot Indonesia saat ini berbeda, dan sebagian investor mungkin sudah menjual lebih awal setelah pengumuman.
Aktif dan pasif bereaksi berbeda
Dana aktif bisa memilih tetap memegang saham Indonesia bila menilai harganya sudah murah, meski Indonesia keluar dari indeks acuan. Dana pengikut indeks tidak punya pilihan itu. Karena itu, sebagian analis menilai penjualan akibat perubahan indeks bisa membuka peluang bagi investor yang menilai fundamental, sementara analis lain mengingatkan bahwa tekanan bisa berlangsung lama.
Salah satu alasan MSCI mengusulkan perubahan status adalah porsi saham publik yang kecil dan terkonsentrasi. Penjelasannya ada di free float.
Kenapa saham besar paling terdampak
Bobot terbesar dalam indeks biasanya ada pada saham berkapitalisasi besar, seperti bank dan perusahaan telekomunikasi. Karena itu, saat dana pasif mengurangi porsi Indonesia, saham-saham ini yang paling banyak dijual.
Polanya terlihat pada 16 Oktober 2026. Investor asing mencatat jual bersih Rp3,3 triliun di seluruh pasar dalam sehari, dengan BBCA, BBRI, dan BMRI di antara saham yang paling banyak dilepas, menurut Investor.id. Tidak semua penjualan itu berasal dari dana pasif, tetapi polanya sejalan dengan kekhawatiran soal bobot indeks.
Cara membaca data jual bersih asing tanpa ikut panik kami bahas dalam net sell asing.
Risiko dana pasif bagi investor ritel
Ikut turun penuh. Reksa dana indeks dan ETF dirancang mengikuti indeks, jadi ikut turun sebesar indeksnya. Tidak ada manajer yang menahan penurunan dengan memperbanyak kas.
Risiko indeks acuan. Bila indeks acuannya berubah besar, misalnya karena keputusan MSCI, isi dan arah dana itu ikut berubah.
Likuiditas ETF. Sebagian ETF di bursa dalam negeri jarang diperdagangkan, sehingga harga jual beli bisa berbeda dari nilai aset bersihnya.
Salah paham soal "aman". Biayanya rendah, tetapi risikonya tetap risiko saham. Produk ini tidak cocok untuk dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat.
Cara mengecek isi ETF atau reksa dana indeks
Setiap produk wajib menerbitkan dokumen yang bisa dibaca investor. Ada tiga dokumen yang perlu dibuka:
- Prospektus, untuk melihat indeks acuan, kebijakan investasi, dan biaya.
- Fund fact sheet bulanan, untuk melihat sepuluh saham terbesar, kinerja dibanding indeks, dan dana kelolaan.
- Laporan NAB harian, untuk memantau perubahan nilai setelah hari bergejolak seperti 16 Oktober.
Bila sepuluh saham terbesar didominasi bank dan telekomunikasi, produk itu akan sangat terpengaruh oleh keputusan yang menyasar saham-saham tersebut.
Pilihan dana indeks di dalam negeri
Investor ritel bisa membeli reksa dana indeks atau ETF lewat agen penjual dan perusahaan sekuritas resmi. Sebelum memilih, cek indeks acuannya, biaya pengelolaan, besar dana kelolaan, dan seberapa dekat kinerjanya mengikuti indeks.
Bila sudah memegang reksa dana saham, lima hal yang perlu dicek setelah pasar jatuh kami rangkum dalam reksa dana saham setelah IHSG anjlok.
Bila Anda memegang ETF atau reksa dana indeks, cek indeks acuannya hari ini; bila acuannya indeks MSCI, ikuti pengumuman manajer investasinya selama masa konsultasi hingga Juni 2027.



