IHSG sering dibaca seperti termometer pasar saham, tetapi banyak investor belum tahu cara menghitung IHSG. Pertanyaan ini makin relevan setelah BEI berencana mengeluarkan 80 saham HSC, berbobot sekitar 18%, dari perhitungan indeks.
Apa itu IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indeks yang mengukur pergerakan harga saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Hari dasarnya 10 Agustus 1982, dengan nilai awal 100.
Jadi, bila IHSG berada di 5.278,89 seperti pada penutupan 20 Oktober 2026, artinya nilai pasar saham-saham dalam indeks kira-kira 52,8 kali lipat dibanding hari dasar, setelah memperhitungkan berbagai penyesuaian sejak itu. Daftar indeks lain yang dikelola BEI bisa dilihat di halaman indeks BEI.
Rumus dasar dan cara menghitung IHSG
Rumus sederhananya: IHSG sama dengan nilai pasar saat ini dibagi nilai dasar, dikali 100. Nilai pasar adalah jumlah lembar saham dikali harga untuk setiap saham dalam indeks, lalu dijumlahkan.
Ada dua hal penting di balik rumus itu. Pertama, sejak 2021 BEI menerapkan bobot berbasis *free float* secara bertahap, sehingga yang dihitung adalah porsi saham yang beredar di publik, bukan seluruh saham perusahaan, seperti dilaporkan Bisnis.com. Konsep *free float* kami jelaskan di free float saham dan MSCI.
Kedua, nilai dasar tidak tetap. Setiap ada saham baru tercatat, saham dikeluarkan, atau aksi korporasi seperti *right issue*, nilai dasar disesuaikan. Tujuannya agar angka indeks tidak melompat hanya karena susunan sahamnya berubah.
Contoh hitungan sederhana
Bayangkan sebuah indeks ilustrasi hanya berisi tiga saham. Angkanya rekaan untuk memudahkan, bukan data riil.
| Saham | Nilai pasar hari dasar | Nilai pasar hari ini | Perubahan |
|---|---|---|---|
| A (besar) | Rp800 | Rp880 | +10% |
| B (sedang) | Rp150 | Rp135 | -10% |
| C (kecil) | Rp50 | Rp40 | -20% |
| Total | Rp1.000 | Rp1.055 | +5,5% |
Bila nilai dasar Rp1.000 setara indeks 100, nilai pasar hari ini Rp1.055 berarti indeks berada di 105,5. Indeks naik meski dua dari tiga saham turun, karena saham A punya bobot 80%.
Contoh ini juga menunjukkan kenapa jumlah saham yang naik dan turun tidak selalu sejalan dengan arah indeks. Yang menentukan adalah bobot, bukan jumlah.
Membaca poin dan persen IHSG
Perubahan IHSG biasanya ditulis dalam dua bentuk: poin dan persen. Pada 20 Oktober 2026, IHSG naik 282,28 poin atau 5,65%, dari 4.996,60 ke 5.278,89.
Poin adalah selisih angka indeks, sedangkan persen adalah selisih itu dibagi angka hari sebelumnya. Untuk membandingkan pergerakan lintas waktu, persen lebih berguna. Kenaikan 100 poin saat IHSG di 5.000 setara 2%, tetapi saat IHSG di 7.500 hanya sekitar 1,3%.
Data lain di laporan harian juga membantu membaca indeks: jumlah saham naik dan turun, nilai transaksi, dan arus dana asing. Kombinasi data ini menunjukkan apakah kenaikan merata atau hanya digerakkan segelintir saham.
Kenapa saham besar menentukan gerak IHSG
Di IHSG, saham berkapitalisasi besar seperti bank, telekomunikasi, dan konsumer punya bobot jauh lebih besar dibanding ratusan saham kecil. Bila beberapa saham besar turun tajam, IHSG ikut turun walau mayoritas saham naik.
Masalah muncul bila saham dengan bobot besar ternyata peredarannya tipis. Harga saham seperti itu bisa bergerak tajam dengan transaksi kecil, lalu ikut menggerakkan indeks. Inilah salah satu alasan BEI menyoroti saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi, yang kami bahas di apa itu saham HSC.
Apa yang terjadi bila saham dikeluarkan
Menurut IDN Times, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan saham HSC tetap bisa diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG. Tanggal efektifnya belum ditetapkan.
Dalam contoh ilustrasi tadi, bila saham C dikeluarkan, nilai dasar disesuaikan sehingga angka indeks pada hari itu tetap 105,5. Mulai hari berikutnya, gerak indeks hanya ditentukan saham A dan B. Begitu pula pada IHSG: angkanya bersambung, tetapi isinya berubah.
Rincian rencana BEI dan dampaknya bagi pemegang saham ada di 80 saham HSC dikeluarkan dari IHSG. Produk yang meniru indeks juga perlu menyesuaikan isinya, seperti dijelaskan di dana pasif, ETF, dan MSCI.
Indeks lain yang perlu dikenal
Selain IHSG, BEI mengelola puluhan indeks lain. Yang paling sering dipakai sebagai acuan adalah LQ45, IDX30, dan IDX80, yang masing-masing berisi 45, 30, dan 80 saham pilihan berdasarkan likuiditas dan nilai pasar.
Ketiga indeks ini sudah lebih dulu tidak memuat saham HSC. Karena isinya lebih sedikit dan lebih likuid, banyak reksa dana indeks dan ETF memakainya sebagai acuan, bukan IHSG.
Ada juga indeks sektoral, seperti keuangan, energi, dan bahan baku, serta indeks syariah. Indeks sektoral membantu melihat sektor mana yang menggerakkan pasar pada hari tertentu.
Risiko salah membaca indeks
Mengira IHSG mewakili semua saham. IHSG naik tidak berarti saham Anda ikut naik. Portofolio dengan banyak saham kecil bisa bergerak sangat berbeda dari indeks.
Membandingkan angka lintas periode tanpa konteks. Setelah perubahan konstituen besar, IHSG lama dan baru berisi saham yang berbeda. Perbandingan jangka panjang perlu memperhitungkan hal ini.
Menganggap persentase harian sebagai kondisi perusahaan. Indeks mencerminkan harga, bukan kinerja usaha. Untuk menilai perusahaan, laporan keuangan dan rasio seperti di cara membaca PER dan PBV lebih berguna.
Bila Anda memegang reksa dana indeks, cek juga indeks acuannya di *fund fact sheet*, karena kinerja produk akan mengikuti indeks itu, bukan IHSG.
Langkah sederhana setelah memahami cara kerja indeks: bandingkan kinerja portofolio Anda dengan indeks yang paling mirip isinya, bukan selalu dengan IHSG.



