Pada 16 Oktober 2026, OJK menyatakan harga saham DSSA dinaikkan lewat manipulasi yang terencana dan terstruktur, lalu menjatuhkan denda Rp1,5 triliun kepada pihak-pihak terkait. Kasus ini mengingatkan bahwa saham gorengan bukan sekadar istilah obrolan investor, melainkan praktik yang bisa merugikan pembeli yang datang belakangan.
Apa itu saham gorengan
Saham gorengan adalah istilah untuk saham yang harganya digerakkan secara tidak wajar oleh sekelompok pihak. Polanya biasanya sama: harga dinaikkan tajam dengan transaksi yang saling dikoordinasikan, saham terlihat ramai diminati, lalu pihak awal menjual kepada investor lain di harga tinggi.
UU Pasar Modal melarang transaksi yang menciptakan gambaran semu tentang harga atau ramainya perdagangan. Dalam kasus DSSA, OJK menyebut manipulasi dilakukan nasabah perorangan dan institusi melalui beberapa anggota bursa, menurut Detik. Rincian kasusnya kami uraikan dalam denda OJK Rp2,1 triliun.
Menyebut sebuah saham "gorengan" tanpa bukti bisa keliru. Yang bisa dilakukan investor adalah mengenali tanda-tandanya dan berhati-hati.
Enam tanda harga sedang digoreng
1. Naik tajam tanpa kabar. Harga naik puluhan hingga ratusan persen dalam waktu singkat, tetapi tidak ada keterbukaan informasi soal kinerja, kontrak baru, atau aksi korporasi yang menjelaskannya.
2. Volume melonjak dari sepi. Saham yang biasanya jarang diperdagangkan tiba-tiba ramai, dengan nilai transaksi berlipat dari rata-rata.
3. Porsi saham publik kecil. Saham dengan *free float* kecil lebih mudah digerakkan karena sedikit saham yang beredar. Penjelasannya ada di free float.
4. Masuk daftar pengawasan bursa. Pengumuman *Unusual Market Activity* (UMA), notasi khusus, atau masuk daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi adalah sinyal untuk memeriksa lebih jauh. Daftar terakhir kami bahas dalam 83 saham HSC.
5. Dipromosikan besar-besaran. Ajakan membeli di grup percakapan, media sosial, atau dari "mentor" yang menjanjikan target harga tinggi dalam waktu singkat.
6. Harga jauh dari kinerja. Valuasi melambung, sementara perusahaan masih merugi atau labanya kecil. Bandingkan harga dengan laba per saham dan nilai buku sebelum ikut membeli.
Tanda-tanda ini juga sering muncul berurutan: saham sepi, lalu mulai dipromosikan, volume naik, harga melonjak, dan akhirnya masuk pengumuman pengawasan bursa. Satu tanda saja belum cukup untuk menyimpulkan. Namun, bila beberapa tanda muncul bersamaan, sebaiknya tahan diri.
Data yang bisa dicek di BEI
- Keterbukaan informasi. Cek apakah ada pengumuman resmi yang menjelaskan kenaikan harga.
- Pengumuman UMA dan suspensi. BEI menerbitkannya di situs resmi untuk saham dengan pergerakan tidak biasa.
- Laporan pemegang saham. Lihat porsi kepemilikan publik dan pemegang saham besar.
- Daftar kepemilikan terkonsentrasi. BEI dan KSEI menerbitkannya secara berkala.
- Laporan keuangan terbaru. Bandingkan harga dengan laba dan aset perusahaan.
Bedanya kenaikan wajar dan kenaikan digoreng
Tidak semua kenaikan tajam mencurigakan. Ada beberapa perbedaan yang bisa diperhatikan:
| Ciri | Kenaikan wajar | Kenaikan mencurigakan |
|---|---|---|
| Penjelasan | Ada laporan kinerja, kontrak, atau aksi korporasi | Tidak ada kabar resmi |
| Volume | Naik bertahap seiring kabar | Melonjak mendadak dari sangat sepi |
| Kepemilikan | Porsi publik cukup besar | Porsi publik kecil, terkonsentrasi |
| Promosi | Dibahas analis dengan data | Disebar di grup dengan target harga fantastis |
| Setelah naik | Cenderung stabil atau bergerak wajar | Turun tajam beruntun setelah puncak |
Gunakan tabel ini sebagai daftar periksa. Semakin banyak ciri di kolom kanan yang cocok, semakin besar alasan untuk tidak ikut membeli.
Kenapa investor ritel sering jadi korban
Investor ritel biasanya melihat saham saat harganya sudah naik banyak dan ramai dibicarakan. Rasa takut ketinggalan mendorong pembelian di harga tinggi, tepat saat pihak awal mulai menjual.
Informasi yang beredar di grup biasanya sepihak: hanya cerita kenaikan yang dibagikan, sementara risiko tidak disebut. Setelah pihak awal keluar, permintaan semu hilang. Harga bisa turun berhari-hari, dan pembeli terakhir kesulitan menjual karena antrean jual menumpuk.
MSCI juga menyoroti dugaan perdagangan terkoordinasi sebagai salah satu alasan mengusulkan penurunan status pasar Indonesia, menurut Detik. Artinya, praktik seperti ini tidak hanya merugikan investor individu, tetapi juga citra pasar secara keseluruhan.
Contoh pola harga (angka ilustrasi)
| Tahap | Harga | Yang terjadi |
|---|---|---|
| Awal | Rp100 | Saham sepi, jarang diperdagangkan |
| Pekan 1-2 | Rp100 ke Rp250 | Volume melonjak, promosi mulai ramai |
| Pekan 3 | Rp250 ke Rp400 | Investor ritel ikut membeli karena takut ketinggalan |
| Pekan 4 | Rp400 ke Rp150 | Pihak awal menjual, harga turun beruntun |
Dalam contoh ini, investor yang membeli di Rp400 rugi lebih dari 60% dalam sepekan. Penurunan beruntun bisa tertahan batas bawah harian, sehingga penjualan pun tidak selalu bisa dilakukan. Batas harian yang berlaku kami jelaskan dalam aturan ARB baru.
Bila sudah terlanjur memegang
Bila saham yang Anda pegang ternyata menunjukkan beberapa tanda di atas, jangan panik dan jangan menambah posisi untuk "merata-rata" harga. Periksa keterbukaan informasi terbaru, hitung berapa porsi saham itu di portofolio, dan tentukan batas kerugian yang masih bisa Anda tanggung.
Bila Anda menerima ajakan membeli dari pihak yang mengaku orang dalam atau menjanjikan keuntungan pasti, simpan buktinya. Dugaan manipulasi dan penipuan investasi bisa dilaporkan ke OJK.
Risiko membeli saham gorengan
Kerugian besar dalam waktu singkat. Harga yang naik tanpa dasar bisa turun sama cepatnya.
Sulit menjual. Saat harga jatuh, pembeli menghilang dan antrean jual menumpuk.
Kerugian ikut menular. Bila banyak investor ritel terjebak di saham yang sama, kerugian bisa memaksa mereka menjual saham lain untuk menutup kebutuhan dana.
Suspensi. BEI bisa menghentikan sementara perdagangan saham dengan pergerakan tidak wajar, sehingga dana tertahan.
Utang margin. Membeli saham seperti ini dengan dana pinjaman bisa memicu penjualan paksa, seperti yang kami bahas dalam margin call.
Sebelum membeli saham yang sedang ramai dibicarakan, cari dulu keterbukaan informasi yang menjelaskan kenaikannya; bila tidak ada, anggap itu peringatan.



