Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan 80 saham HSC atau saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG. Bobot gabungan saham-saham itu sekitar 18% dari indeks, tetapi tanggal efektifnya belum ditetapkan.
Isi rencana BEI soal saham HSC
Rencana ini disampaikan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik pada Senin, 19 Oktober 2026, setelah pertemuan BEI dengan MSCI pada sore harinya. "Ke depannya, seluruh saham dalam High Shareholding Concentration (HSC) itu juga akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG," kata Jeffrey, seperti dikutip IDN Times.
Ia menegaskan saham-saham itu tetap bisa diperdagangkan, hanya pergerakan harganya tidak akan memengaruhi IHSG. Jadi ini bukan delisting. Menurut Viva, BEI belum menyebut tanggal pasti dan hanya mengatakan langkah ini dilakukan ke depan.
Daftar lengkap 80 saham dimuat IDN Times. Isinya beragam, dari bank, menara telekomunikasi, rumah sakit, properti, tambang, hingga energi terbarukan. BREN dan DSSA, yang lebih dulu masuk daftar HSC sejak April, termasuk di dalamnya.
Pengumuman ini datang bersama langkah kedua: BEI akan menambahkan informasi afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1%. Keduanya disebut untuk meningkatkan transparansi pasar.
Kenapa saham HSC dikeluarkan
Saham HSC adalah saham yang sebagian besar kepemilikannya terkumpul pada sedikit pihak. Akibatnya, porsi yang benar-benar beredar di pasar kecil, sehingga harga bisa bergerak tajam dengan transaksi yang relatif sedikit. Konsepnya kami uraikan di apa itu saham HSC.
BEI menyebut tujuannya agar IHSG memberi gambaran pasar yang lebih wajar. Bila saham dengan peredaran tipis tetapi kapitalisasi besar ikut dihitung, satu-dua saham bisa menggerakkan indeks jauh lebih kuat daripada kondisi pasar secara umum.
Langkah ini juga sejalan dengan sorotan MSCI soal *free float* dan konsentrasi kepemilikan di pasar Indonesia. Kaitan antara keduanya ada di free float saham dan MSCI.
Dampak ke angka IHSG
Bobot sekitar 18% berarti hampir seperlima nilai IHSG saat ini berasal dari saham HSC. Setelah dikeluarkan, angka IHSG akan sepenuhnya digerakkan oleh saham lain, terutama bank besar, telekomunikasi, dan konsumer yang kepemilikannya lebih tersebar.
Ada dua konsekuensi praktis. Pertama, kenaikan atau penurunan tajam satu saham dalam daftar itu tidak lagi tampak di IHSG. Kedua, membandingkan IHSG sebelum dan sesudah perubahan perlu hati-hati, karena komposisinya tidak lagi sama.
Perubahan susunan indeks biasanya tidak mengubah angka IHSG pada hari berlakunya. Penyelenggara indeks menyesuaikan pembagi (*divisor*) agar angka tetap bersambung. Yang berubah adalah perilakunya setelah itu.
Ilustrasinya begini. Bila pada suatu hari seluruh saham non-HSC naik 1% sementara satu saham HSC berbobot besar turun 10%, IHSG versi lama bisa tampak melemah. Pada versi baru, IHSG akan tercatat naik, karena saham HSC tidak lagi dihitung. Gambaran pasar yang dibaca investor pun berbeda.
Dampak bagi reksa dana indeks dan ETF
Produk yang meniru IHSG akan perlu menyesuaikan isi portofolionya agar tetap sesuai dengan indeks. Manajer investasi bisa mengurangi atau menjual saham yang dikeluarkan dan membeli saham lain sesuai bobot baru.
Penyesuaian semacam ini bisa menambah tekanan jual pada saham-saham tersebut menjelang tanggal efektif, tergantung seberapa besar dana yang mengacu pada IHSG. Cara kerja dana pasif dan pengaruhnya ke harga saham kami jelaskan di dana pasif, ETF, dan MSCI.
Bagi pemegang reksa dana indeks, langkah sederhananya: cek prospektus atau *fund fact sheet* untuk melihat indeks acuan produk Anda. Banyak reksa dana indeks mengacu pada LQ45 atau IDX30, yang sudah lebih dulu tidak memuat saham-saham ini.
Risiko bagi pemegang saham HSC
Likuiditas bisa makin tipis. Saham yang keluar dari indeks acuan cenderung kehilangan sebagian pembeli dari dana pasif. Spread jual-beli bisa melebar.
Volatilitas tetap tinggi. Status HSC tidak mengubah fakta bahwa peredaran sahamnya kecil. Harga bisa tetap bergerak tajam, naik maupun turun, dengan transaksi kecil.
Status bisa berubah. BEI menyebut saham yang tidak lagi memenuhi kriteria HSC dapat kembali masuk IHSG. Jadi daftar ini bukan vonis permanen, dan perubahannya bergantung pada struktur kepemilikan, bukan pada kinerja usaha.
Status HSC bukan penilaian atas kualitas bisnis. Sebuah perusahaan bisa untung besar tetapi tetap masuk daftar karena sahamnya terkumpul pada pemilik utama.
Yang perlu dipantau
- Tanggal efektif pengeluaran saham HSC dari IHSG, yang belum diumumkan BEI.
- Pembaruan daftar HSC pada evaluasi berkala berikutnya.
- Hasil Index Review MSCI yang dijadwalkan diumumkan 11 November 2026.
Perkembangan harian pasar pekan ini, termasuk reaksi atas pengumuman ini, kami rangkum di IHSG sepekan 19-23 Oktober. Bila Anda memegang salah satu saham dalam daftar, pertanyaan utamanya tetap sama: apakah alasan Anda membelinya masih berlaku setelah perubahan ini.



