Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri ESDM mencabut izin tambang yang tidak menunjukkan aktivitas nyata lebih dari dua tahun. Ia juga menduga sebagian konsesi selama ini dipakai untuk spekulasi, termasuk dibawa ke bursa, tanpa benar-benar ditambang.

Isi instruksi Presiden soal izin tambang

"Saya memberikan instruksi kepada Menteri ESDM, jika lebih dari dua tahun tidak ada aktivitas nyata, cabut," kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional TPAKD di Jakarta, seperti dikutip Kumparan.

Ia menyebut banyak konsesi tidak digarap selama puluhan tahun. Salah satu contoh yang ia sebut adalah konsesi di Masela yang menurutnya 28 tahun belum dikerjakan, dan pemegangnya kini berkomitmen memulai kegiatan dalam enam bulan.

Kebijakan batas dua tahun ini sebenarnya sudah disampaikan dalam sidang kabinet 20 Juli 2026, mencakup izin seperti HGU, IUP, dan HGB, menurut Bisnis.com. Pernyataan 22 Oktober mempertegas instruksi itu untuk sektor tambang.

Kenapa konsesi nganggur jadi sorotan

Presiden menduga sebagian pengusaha dulu mengajukan konsesi untuk spekulasi meski tidak punya keahlian menambang. Setelah izin didapat, konsesi itu "entah untuk spekulasi atau dimasukkan ke bursa-bursa di mana pun," katanya, menurut Kumparan.

Menurut Aktual, Presiden juga menyebut lima konsesi dengan cadangan terbukti berdasarkan studi standar JORC bernilai sekitar Rp5.400 triliun. Ia mengingatkan agar tidak terlalu cepat bertepuk tangan karena kekayaan itu masih di bawah tanah.

Pernyataan ini menyentuh isu yang dekat dengan investor ritel. Di bursa, ada emiten yang harga sahamnya bergerak karena kabar konsesi baru, meski kegiatan produksinya belum jelas.

Dampak bagi emiten dan saham tambang

Bagi emiten yang sudah berproduksi dan rutin melaporkan volume penjualan, instruksi ini kemungkinan tidak banyak berpengaruh. Kegiatan nyata mereka tercatat dalam laporan keuangan dan laporan produksi.

Yang perlu diperhatikan adalah emiten yang nilai perusahaannya bertumpu pada konsesi yang belum digarap. Bila izinnya dicabut, aset utama itu bisa hilang, dan nilai buku maupun harga sahamnya bisa terkoreksi tajam.

Belum ada nama perusahaan yang diumumkan, dan pencabutan tetap harus melalui prosedur hukum yang berlaku. Pemegang izin biasanya diberi kesempatan menjelaskan atau memulai kegiatan sebelum izin benar-benar dicabut, seperti contoh Masela yang diberi tenggat enam bulan. Karena itu, pantau keterbukaan informasi resmi alih-alih kabar berantai. Cara mengenali saham yang bergerak tanpa dasar kinerja ada di ciri saham gorengan.

Kenapa pasar sensitif terhadap kabar izin

Bagi perusahaan tambang, izin adalah dasar untuk bisa menambang dan menjual hasilnya. Tanpa izin, cadangan sebesar apa pun tidak bisa dimanfaatkan secara sah.

Karena itu, kabar soal izin sering memicu pergerakan harga saham yang tajam, baik saat izin baru didapat maupun saat izin terancam. Pergerakan ini kadang terjadi sebelum ada kepastian, misalnya hanya berdasarkan pernyataan pejabat atau kabar di media sosial.

Instruksi 22 Oktober belum disertai daftar perusahaan, jumlah izin, atau jadwal. Dalam situasi seperti ini, informasi resmi dari Kementerian ESDM dan keterbukaan informasi emiten menjadi pegangan yang paling bisa dipercaya.

Cara mengecek status operasi emiten

  • Laporan tahunan. Lihat bagian kegiatan usaha: apakah tambang sudah berproduksi, masih eksplorasi, atau baru tahap perizinan.
  • Pendapatan. Emiten yang benar-benar menambang mencatat pendapatan dari penjualan hasil tambang. Pendapatan yang sangat kecil dibanding nilai pasar perlu dipertanyakan.
  • Keterbukaan informasi. Cek pengumuman di situs BEI soal perpanjangan atau perubahan izin.
  • Rasio valuasi. Bandingkan nilai pasar dengan laba dan nilai buku, seperti dijelaskan di cara membaca PER dan PBV.

Risiko saham berbasis konsesi

Risiko perizinan. Konsesi yang tidak digarap kini punya tenggat. Kegagalan memulai kegiatan bisa berujung pencabutan.

Risiko angka besar. Nilai cadangan di bawah tanah bukan nilai perusahaan. Masih ada biaya eksplorasi, konstruksi, infrastruktur, dan waktu bertahun-tahun sebelum produksi. Angka sumber daya yang besar juga belum tentu terbukti layak ditambang.

Risiko kepemilikan terkonsentrasi. Sebagian saham berbasis sumber daya alam kepemilikannya terpusat, sehingga harga mudah bergerak tajam. Konsepnya ada di saham HSC.

Risiko sektor. Saham tambang juga dipengaruhi harga komoditas dunia, kurs, dan kebijakan ekspor. Instruksi soal izin hanyalah satu dari banyak faktor yang perlu dihitung.

Risiko kabar yang belum pasti. Daftar izin yang akan dicabut bisa beredar di media sosial sebelum ada pengumuman resmi. Menjual atau membeli berdasarkan daftar tidak resmi bisa merugikan.

Pertanyaan sederhana sebelum membeli saham tambang: apa yang sudah ditambang dan dijual perusahaan ini tahun lalu, bukan seberapa besar konsesinya.