Dua saham sama-sama berharga Rp2.000 per lembar, tetapi yang satu bisa jauh lebih mahal dari yang lain. Untuk membedakannya, investor memakai dua rasio sederhana: PER dan PBV.

Apa itu PER

PER atau *price to earnings ratio* membandingkan harga saham dengan laba per saham. Angka ini menjawab pertanyaan: berapa rupiah yang dibayar investor untuk setiap Rp1 laba tahunan perusahaan?

Rumusnya:

  • Laba per saham (EPS) = laba bersih setahun ÷ jumlah saham beredar.
  • PER = harga saham ÷ EPS.

PER 10 kali berarti investor membayar Rp10 untuk setiap Rp1 laba setahun. Makin tinggi PER, makin mahal harga saham dibanding labanya, setidaknya di atas kertas.

Apa itu PBV

PBV atau *price to book value* membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham. Nilai buku adalah ekuitas, yaitu aset dikurangi utang, yang tercatat di laporan keuangan.

Rumusnya:

  • Nilai buku per saham = ekuitas ÷ jumlah saham beredar.
  • PBV = harga saham ÷ nilai buku per saham.

PBV 1,5 kali berarti harga saham setara 1,5 kali nilai buku per sahamnya. PBV di bawah 1 berarti pasar menghargai perusahaan di bawah nilai bukunya.

Contoh menghitung PER dan PBV (angka ilustrasi)

Perusahaan A dan B dalam contoh ini bukan emiten nyata.

Contoh perhitungan PER dan PBV (angka ilustrasi)
DataPerusahaan APerusahaan B
Harga sahamRp2.000Rp2.000
Laba bersih setahunRp200 miliarRp50 miliar
EkuitasRp2 triliunRp4 triliun
Jumlah saham beredar1 miliar1 miliar
EPSRp200Rp50
PER10 kali40 kali
Nilai buku per sahamRp2.000Rp4.000
PBV1,0 kali0,5 kali

Dengan harga yang sama, A tampak murah dari sisi laba (PER 10), sedangkan B tampak murah dari sisi aset (PBV 0,5) tetapi mahal dari sisi laba (PER 40). Kedua rasio memberi gambaran yang berbeda, sehingga sebaiknya dibaca bersama.

Membaca angka sesuai sektor

Tidak ada angka PER atau PBV yang "benar" untuk semua saham. Setiap sektor punya karakter berbeda.

Bank, misalnya, biasanya diperdagangkan dengan PBV di atas 1 karena asetnya berupa kredit yang menghasilkan bunga dan pasar menghargai stabilitasnya. Perusahaan teknologi sering punya PER tinggi atau bahkan tidak bisa dihitung karena belum mencetak laba. Perusahaan tambang PER-nya naik turun tajam mengikuti harga komoditas.

Cara yang lebih masuk akal adalah membandingkan:

  1. Perusahaan dengan pesaing di sektor yang sama.
  2. Perusahaan dengan PER dan PBV-nya sendiri dalam beberapa tahun terakhir.
  3. Rasio valuasi dengan kemampuan menghasilkan laba, misalnya *return on equity* (ROE), yaitu laba bersih dibagi ekuitas.

PBV rendah dengan ROE rendah bisa berarti perusahaan memang kurang efisien memakai modalnya. PBV tinggi dengan ROE tinggi bisa wajar karena perusahaan menghasilkan laba besar dari modalnya.

Rasio lain yang sering dipakai bersama

Selain PER dan PBV, ada beberapa rasio yang sering muncul di aplikasi sekuritas:

  • **ROE (*return on equity*)**: laba bersih dibagi ekuitas. Menunjukkan seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.
  • **DER (*debt to equity ratio*)**: total utang dibagi ekuitas. Makin tinggi, makin besar ketergantungan perusahaan pada utang.
  • Dividend yield: dividen per saham dibagi harga saham. Berguna bagi investor yang mengincar pendapatan rutin.

Membaca beberapa rasio sekaligus mencegah kesimpulan keliru. Saham ber-PER rendah dengan DER sangat tinggi, misalnya, bisa murah karena pasar khawatir soal kemampuan membayar utang.

Risiko dan batasan rasio valuasi

Laba bisa berubah drastis. PER dihitung dari laba periode tertentu. Laba satu kali, misalnya dari penjualan aset, membuat PER tampak rendah padahal laba normalnya kecil. Sebaliknya, rugi sementara membuat PER tidak bisa dihitung.

Nilai buku tidak selalu mencerminkan nilai sebenarnya. Perusahaan yang nilainya banyak berasal dari merek, teknologi, atau sumber daya manusia punya nilai buku kecil, sehingga PBV-nya tampak tinggi.

Murah bisa karena alasan yang benar. Saham yang PER dan PBV-nya rendah kadang memang dijauhi karena utang besar, kinerja menurun, atau masalah tata kelola. Istilahnya jebakan nilai, atau *value trap*.

Rasio bukan sinyal waktu. PER dan PBV membantu menilai harga relatif, tetapi tidak memberi tahu kapan harga akan naik atau turun.

Karena itu, rasio valuasi hanya titik awal untuk bertanya lebih jauh, bukan jawaban akhir. Baca juga laporan keuangan, prospek usaha, dan aksi korporasi yang sedang berjalan, seperti yang kami bahas dalam rights issue.

Di mana menemukan datanya

Aplikasi perusahaan sekuritas biasanya menampilkan kedua rasio ini untuk setiap saham. Bila ingin menghitung sendiri, ambil laba bersih dan ekuitas dari laporan keuangan terbaru di situs Bursa Efek Indonesia, lalu gunakan harga penutupan terakhir.

Perhatikan periode labanya, karena angka ini menentukan hasil perhitungan. Sebagian aplikasi memakai laba 12 bulan terakhir, sebagian memakai laba tahunan, sehingga angkanya bisa berbeda. Laporan keuangan kuartal III yang terbit menjelang akhir Oktober akan memperbarui angka-angka ini.

Pastikan juga Anda bertransaksi lewat perusahaan efek berizin, dengan langkah di cek platform keuangan legal. Pergerakan pasar terkini, termasuk arus dana asing yang sering memengaruhi harga, kami rangkum di net sell asing.

Untuk siapa rasio ini berguna

Kedua rasio ini berguna bagi investor yang membeli saham untuk jangka menengah dan panjang dan ingin tahu apakah harga yang dibayar masuk akal dibanding kinerja perusahaan. Bagi yang bertransaksi jangka pendek, rasio ini tetap berguna sebagai pengingat agar tidak membeli saham yang harganya sudah jauh di atas kemampuan labanya.

Pilih satu saham yang Anda miliki atau sedang Anda incar, catat kedua rasionya hari ini, lalu bandingkan dengan dua pesaing terdekatnya di sektor yang sama.