IHSG sepekan 19-23 Oktober 2026 naik 4,90% ke 5.439,25, meski sempat dibuka dengan anjlok 3,64% ke bawah level 5.000 pada Senin. Kenaikan terjadi saat investor asing masih mencatat jual bersih sekitar Rp6,67 triliun sepanjang pekan.
IHSG sepekan dalam angka
| Hari | Penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| Jumat, 16 Oktober (pekan lalu) | 5.185,11 | - |
| Senin, 19 Oktober | 4.996,60 | -3,64% |
| Selasa, 20 Oktober | 5.278,89 | +5,65% |
| Rabu, 21 Oktober | 5.328,36 | +0,94% |
| Kamis, 22 Oktober | 5.387,90 | +1,12% |
| Jumat, 23 Oktober | 5.439,25 | +0,95% |
Secara sepekan, IHSG naik 4,90%, menurut JournalArta. Rata-rata nilai transaksi harian naik 25,42% menjadi Rp20,34 triliun.
Tekanan pada Senin sempat lebih dalam. IHSG dibuka melemah dan pada akhir sesi pertama berada di 4.923,26, turun 5,28%, menurut Kumparan. Pada sesi kedua penurunan menyempit hingga ditutup turun 188,49 poin, menurut Kompas.com.
Sebanyak 656 saham turun, 100 naik, dan 43 tidak bergerak, menurut Kontan. Ringkasan pekan sebelumnya, saat IHSG turun 14,91%, ada di Bursa Sepekan 12-16 Oktober.
Peristiwa penting pekan ini
Batas ARB jadi 7%. Senin adalah hari pertama berlakunya batas penurunan harian saham 7%, turun dari 15%, lewat Kep-00157/BEI/10-2026 yang berlaku hingga 31 Desember 2026, menurut Kontan. Dengan batas ini, IHSG secara praktis sulit menyentuh ambang trading halt 8% dalam sehari. Rinciannya ada di ARB dipangkas jadi 7%.
Denda OJK masih bergema. Pasar juga mencerna denda total sekitar Rp2,1 triliun yang dijatuhkan OJK pada 16 Oktober kepada pihak-pihak terkait kasus saham DSSA, BREN, dan CUAN. Kasusnya kami uraikan dalam denda OJK Rp2,1 triliun.
MSCI tetap membekukan saham Indonesia. Selama masa konsultasi usulan *standalone market*, MSCI mempertahankan pembekuan penambahan saham dan kenaikan bobot Indonesia. Pengumuman Index Review November dijadwalkan 11 November 2026, menurut Kontan.
Arus dana asing
Investor asing mencatat jual bersih Rp2,28 triliun pada Senin, menurut Kompas.com. Sepanjang pekan, jual bersih asing mencapai sekitar Rp6,67 triliun meski IHSG naik, menurut JournalArta. Artinya, kenaikan indeks banyak ditopang pembeli domestik.
Pada Jumat, saham bank besar seperti BBCA dan BBRI termasuk yang paling banyak dilepas asing. Perlu diingat, data arus asing dipublikasikan setelah transaksi terjadi, sehingga lebih berguna untuk membaca tren beberapa pekan daripada sebagai sinyal harian.
Sektor yang menonjol
Pada Senin, seluruh sektor melemah, menurut Investor Trust. Sektor bahan baku turun paling dalam, 4,57%, dengan MDKA, AMMN, dan MBMA di antara saham LQ45 yang turun paling dalam, menurut Kontan.
Saham berkapitalisasi besar yang banyak dipegang asing, seperti bank dan tambang, cenderung menjadi pemberat utama indeks saat jual bersih asing besar. Penurunan saham tambang dan bahan baku sejalan dengan tekanan yang sudah terlihat pada pekan lalu, saat sektor ini menjadi salah satu yang terdalam pada hari trading halt.
Apa artinya bagi investor ritel
Dua pekan berturut-turut IHSG tertekan oleh isu yang sama: usulan MSCI soal status pasar Indonesia dan arus keluar dana asing. Pemicu ini berkaitan dengan struktur pasar, bukan dengan laporan kinerja perusahaan yang baru keluar.
Karena itu, laporan keuangan kuartal III emiten yang mulai terbit menjelang akhir Oktober tetap menjadi ukuran yang lebih kuat untuk menilai kondisi perusahaan dibanding pergerakan harga harian. Bagi investor jangka panjang, pertanyaan pentingnya adalah apakah alasan memegang saham masih berlaku, bukan berapa jauh harga turun dalam sehari.
Bila Anda memegang reksa dana saham, langkah yang perlu dicek setelah pasar jatuh kami rangkum dalam reksa dana saham setelah IHSG anjlok.
Risiko yang perlu dipantau
Volatilitas tetap tinggi. Batas ARB 7% membatasi penurunan per hari, tetapi tidak menghapus tekanan jual. Penurunan bisa berlanjut beberapa hari dengan antrean jual yang panjang.
Arus modal dan rupiah. Jual bersih asing yang berlanjut bisa menekan rupiah, terutama menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia dan The Fed.
Keputusan karena panik. Menjual atau membeli hanya karena pergerakan satu-dua hari berisiko lebih besar daripada pergerakan pasarnya sendiri. Perbandingan dengan krisis sebelumnya ada di IHSG jatuh terdalam sejak 1998.
Agenda pekan ini dan berikutnya
- Hasil RDG BI 21 Oktober: BI-Rate tetap 5,75%, Deposit Facility naik ke 5%.
- Penutupan masa penawaran SBR015 pada Kamis, 22 Oktober pukul 10.00 WIB.
- Rapat The Fed 27-28 Oktober 2026.
- Index Review MSCI yang dijadwalkan diumumkan 11 November 2026.
Pekan ini juga diwarnai rencana BEI mengeluarkan 80 saham HSC dari perhitungan IHSG dan keputusan BI menahan BI-Rate. Kelanjutannya kami rangkum di edisi Bursa Sepekan 26-30 Oktober.



