Hari pertama pasar jatuh sering diikuti hari-hari berikutnya yang tetap merah, meski kabar buruknya sudah lama beredar. Salah satu penjelasannya ada pada istilah margin call: saham yang dibeli dengan dana pinjaman dijual paksa ketika nilainya turun terlalu dalam.

Apa itu fasilitas margin

Fasilitas margin adalah pinjaman dari perusahaan sekuritas untuk membeli saham. Investor menyetor sebagian dana sendiri, lalu sekuritas menambah sisanya. Saham yang dibeli menjadi jaminan pinjaman itu.

Menurut aturan OJK yang dikutip Kontan, sekuritas dapat membiayai hingga 65% dari nilai jaminan, dan jaminan awal yang disetor investor minimal 50% dari nilai pembelian saham. Hanya saham tertentu yang memenuhi syarat yang boleh dibeli dengan margin.

BEI menerbitkan daftar efek yang boleh ditransaksikan dengan margin secara berkala, dan sekuritas bisa membuat daftar sendiri yang lebih ketat. Saat pasar bergejolak, sekuritas juga bisa menurunkan rasio pembiayaan atau mencoret saham tertentu dari daftar, sehingga investor perlu menambah jaminan meski harga belum turun banyak.

Dengan margin, keuntungan bisa lebih besar saat harga naik. Sebaliknya, kerugian juga membesar saat harga turun, karena utang ke sekuritas tetap sama sementara nilai jaminan menyusut.

Kapan margin call terjadi

Sekuritas memantau rasio antara utang dan nilai jaminan setiap hari. Ketika harga saham turun dan rasio itu melewati batas tertentu, sekuritas mengirim margin call: permintaan agar investor menambah dana tunai atau saham jaminan, atau menjual sebagian saham untuk mengurangi utang.

Batas pastinya berbeda antarsekuritas. Ada yang mengirim margin call ketika rasio melewati 65%, ada pula yang memakai ambang lain sesuai manajemen risikonya. Investor biasanya diberi waktu beberapa hari bursa untuk memenuhi permintaan itu.

Forced sell dan efek berantai ke harga

Bila investor tidak memenuhi margin call, atau bila rasio memburuk melewati batas yang lebih tinggi, sekuritas menjual paksa saham jaminan. Inilah forced sell.

Penjualan paksa dilakukan untuk menutup utang, bukan untuk mencari harga terbaik. Akibatnya, saham dijual di harga berapa pun yang tersedia. Bila banyak investor margin memegang saham yang sama, penjualan paksa yang bersamaan bisa menekan harga lebih dalam, yang kemudian memicu margin call baru pada investor lain.

Efek berantai inilah yang sering membuat sebuah saham turun hingga batas ARB beberapa hari berturut-turut. Cara kerja batas harian itu kami jelaskan dalam aturan ARB baru.

Pada Januari 2026, saat IHSG turun lebih dari 7% dalam satu sesi, pejabat BEI mengakui kemungkinan adanya forced sell pada saham margin yang sudah turun dalam, menurut Detik. Untuk penurunan 16 Oktober 2026, kami belum menemukan data resmi seberapa besar peran forced sell.

Contoh hitungan (angka ilustrasi)

Seorang investor membeli saham senilai Rp100 juta: Rp50 juta dana sendiri dan Rp50 juta pinjaman margin.

Contoh pergerakan rasio margin (angka ilustrasi; batas tiap sekuritas berbeda)
KondisiNilai sahamUtangRasio utang terhadap nilai saham
Saat membeliRp100 jutaRp50 juta50%
Harga turun 15%Rp85 jutaRp50 juta±59%
Harga turun 25%Rp75 jutaRp50 juta±67%
Harga turun 35%Rp65 jutaRp50 juta±77%

Dalam contoh ini, penurunan 25% sudah bisa memicu margin call di sekuritas yang memakai batas 65%. Saat harga turun 35%, dana sendiri investor tinggal Rp15 juta dari Rp50 juta semula, atau rugi 70%, sementara saham pasarnya hanya turun 35%.

Pekan ini IHSG turun 14,91%, dan banyak saham turun jauh lebih dalam dari indeks, seperti yang kami rangkum di Bursa Sepekan.

Tanda tekanan penjualan paksa di pasar

Data resmi soal forced sell jarang diumumkan. Namun, ada beberapa pola yang sering muncul saat penjualan paksa sedang berlangsung:

  • Saham turun hingga batas bawah beberapa hari berturut-turut dengan antrean jual menumpuk, padahal tidak ada kabar buruk baru dari perusahaannya.
  • Tekanan terbesar pada saham yang sebelumnya naik cepat dan banyak dibeli dengan margin.
  • Penurunan berlanjut setelah tenggat margin call, biasanya beberapa hari bursa setelah hari jatuh pertama.
  • Pengumuman sekuritas yang menurunkan rasio pembiayaan atau mengeluarkan saham tertentu dari daftar efek marginnya.

Pola ini bukan bukti pasti, tetapi membantu menjelaskan kenapa harga bisa terus turun meski penyebab awalnya sudah diketahui semua orang. Penyebab awal penurunan 16 Oktober kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.

Bagi investor tanpa utang, penjualan paksa orang lain tidak memaksa Anda ikut menjual. Yang perlu dicek adalah apakah alasan Anda memegang saham itu masih berlaku.

Risiko memakai dana pinjaman untuk saham

Kerugian berlipat. Seperti contoh di atas, kerugian atas dana sendiri bisa dua kali lipat penurunan harga saham.

Kehilangan kendali waktu. Investor tanpa utang bisa memilih menunggu. Investor margin bisa dipaksa menjual di harga terendah.

Biaya bunga. Pinjaman margin dikenai bunga harian. Saat harga turun, investor menanggung kerugian harga sekaligus bunga.

Pinjaman dari luar sekuritas. Membeli saham dengan pinjaman daring, paylater, atau kartu kredit lebih berisiko lagi karena tidak ada mekanisme jaminan yang jelas dan bunganya lebih tinggi. Kebiasaan ini sebaiknya dihindari sama sekali.

Cara mengelola risiko bagi pengguna margin

  1. Baca perjanjian fasilitas margin dan catat batas margin call serta batas penjualan paksa yang berlaku di sekuritas Anda.
  2. Hitung berapa persen penurunan harga yang akan memicu margin call pada posisi Anda hari ini.
  3. Sisihkan dana cadangan untuk memenuhi margin call, atau kurangi utang lebih awal saat pasar masih tenang.
  4. Jangan memusatkan pinjaman pada satu saham.
  5. Pertimbangkan apakah memakai margin memang sesuai dengan profil risiko Anda.

Bila Anda memakai margin, buka aplikasi sekuritas malam ini dan catat rasio margin terbaru serta batas margin call-nya sebelum pasar dibuka Senin.