IHSG kehilangan 11,57% dalam sehari pada 16 Oktober 2026. Di tengah penurunan seperti ini, perusahaan tercatat punya satu alat yang bisa dipakai cepat: membeli kembali sahamnya sendiri, atau buyback saham, tanpa harus menunggu persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Apa itu buyback saham

Buyback adalah pembelian kembali saham oleh perusahaan yang menerbitkannya, memakai kas perusahaan. Saham yang dibeli kembali disimpan sebagai saham treasuri. Selama disimpan, saham itu tidak beredar di pasar dan tidak ikut dihitung dalam pembagian dividen.

Perusahaan biasanya melakukan buyback karena menilai harga sahamnya di pasar sudah jauh di bawah nilai yang dianggap wajar, atau untuk menjaga stabilitas harga saat pasar bergejolak. Saham treasuri nantinya bisa dijual kembali ke pasar atau dipakai untuk keperluan lain sesuai aturan.

Dalam kondisi normal, buyback memerlukan persetujuan RUPS lebih dulu. Proses ini butuh waktu karena ada pengumuman, pemanggilan, dan rapat.

Kenapa OJK membolehkan buyback tanpa RUPS

OJK pertama kali mengeluarkan kebijakan buyback tanpa RUPS dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan pada Maret 2025, setelah IHSG turun tajam dari puncaknya, menurut siaran pers OJK. Dasarnya Pasal 7 POJK 13/2023, sementara pelaksanaan buyback tetap mengikuti ketentuan buyback yang berlaku.

Kebijakan itu diperpanjang beberapa kali. Pada Maret 2026, OJK menyatakan kebijakan tetap berlaku karena fluktuasi pasar masih tinggi, menurut Bisnis.com. Dalam siaran pers rapat dewan komisioner September 2026, OJK memperpanjangnya hingga 31 Desember 2026.

Tujuannya memberi perusahaan alat yang bisa dipakai cepat untuk meredam tekanan jual, tanpa menunggu proses RUPS yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Cara mengecek pengumuman buyback

Perusahaan yang akan melakukan buyback wajib mengumumkannya lewat keterbukaan informasi. Langkah mengeceknya:

  1. Buka situs Bursa Efek Indonesia, menu keterbukaan informasi, lalu cari kode saham perusahaan.
  2. Cari pengumuman berjudul rencana pembelian kembali saham.
  3. Baca empat hal utama: nilai dana maksimal, jumlah saham maksimal, periode pelaksanaan, dan sumber dananya.
  4. Pantau laporan realisasi buyback yang biasanya diumumkan setelah periode berjalan atau selesai.

Sebagai gambaran, pada awal Oktober 2026 sudah ada emiten yang mengumumkan rencana buyback hingga ratusan miliar rupiah untuk periode Oktober-Desember dengan memanfaatkan kebijakan ini, menurut pemberitaan pasar. Setelah 16 Oktober, pengumuman serupa kemungkinan bertambah, jadi bacalah langsung dari sumber resminya.

Contoh hitungan dampak buyback (angka ilustrasi)

Perusahaan Y memiliki 10 miliar saham beredar dan laba bersih Rp5 triliun setahun. Perusahaan mengumumkan buyback hingga 200 juta saham.

Dampak buyback terhadap laba per saham (angka ilustrasi)
KeteranganSebelum buybackSetelah buyback penuh
Saham beredar10 miliar9,8 miliar
Laba bersihRp5 triliunRp5 triliun
Laba per sahamRp500±Rp510

Laba per saham naik sekitar 2% tanpa ada perubahan kinerja bisnis, semata karena jumlah saham beredar berkurang. Kenaikan ini nyata di atas kertas, tetapi bukan tanda bahwa bisnis perusahaan membaik.

Sekarang bandingkan dengan perdagangan hariannya. Bila rata-rata nilai transaksi saham Y Rp300 miliar per hari dan buyback senilai Rp200 miliar dijalankan selama tiga bulan, porsi buyback hanya sekitar Rp3 miliar per hari, atau 1% dari transaksi harian. Dampaknya terhadap harga bisa jauh lebih kecil dari yang dibayangkan saat membaca angka ratusan miliar.

Pertanyaan sebelum menilai pengumuman buyback

  • Seberapa besar dibanding kas perusahaan? Buyback yang menghabiskan sebagian besar kas lebih berisiko daripada yang memakai sebagian kecil.
  • Dari mana dananya? Kas internal berbeda dengan dana pinjaman. Buyback dengan utang menambah beban bunga.
  • Apakah pengendali ikut menjual? Bila pada periode yang sama pemegang saham besar justru melepas saham, sinyal buyback menjadi kabur.
  • Bagaimana realisasi buyback sebelumnya? Perusahaan yang pernah mengumumkan buyback tetapi realisasinya kecil perlu dicatat.

Apa artinya bagi pemegang saham ritel

Buyback menambah permintaan atas saham di pasar, yang dalam jangka pendek bisa membantu meredam penurunan harga. Karena jumlah saham beredar berkurang, laba per saham juga bisa naik di atas kertas.

Namun, buyback bukan jaminan. Nilai buyback biasanya kecil dibanding total nilai transaksi saham itu, dan pengumuman rencana belum tentu direalisasikan seluruhnya. Pada 16 Oktober saja, nilai transaksi seluruh bursa mencapai sekitar Rp26,38 triliun dalam sehari, menurut CNBC Indonesia.

Buyback juga memakai kas perusahaan. Kas yang dipakai untuk membeli saham tidak bisa dipakai untuk ekspansi atau membayar utang. Untuk perusahaan dengan utang besar, keputusan ini perlu dicermati.

Buyback dibanding dividen

Buyback dan dividen sama-sama cara perusahaan mengembalikan kas kepada pemegang saham, tetapi cara kerjanya berbeda. Dividen dibayar tunai kepada semua pemegang saham dan dikenai pajak. Buyback tidak memberi uang tunai langsung; manfaatnya datang lewat harga saham dan laba per saham yang lebih tinggi, dan hanya dinikmati penuh oleh pemegang saham yang tidak menjual.

Bagi investor yang mengandalkan pemasukan rutin dari saham, pengumuman dividen biasanya lebih relevan. Bagi investor jangka panjang, buyback di harga rendah bisa menambah porsi kepemilikan secara tidak langsung.

Risiko dan batasan buyback

Bukan sinyal beli otomatis. Perusahaan bisa saja keliru menilai harga wajarnya sendiri. Penilaian harga relatif dengan rasio seperti PER dan PBV tetap perlu dilakukan sendiri.

Free float berkurang. Saham treasuri tidak beredar, sehingga porsi saham publik mengecil. Ini perlu diperhatikan karena aturan bursa mewajibkan porsi saham publik minimum, dan isu kepemilikan saham menjadi sorotan MSCI. Kronologi isu MSCI kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.

Rencana tidak selalu terealisasi. Periksa laporan realisasi, bukan hanya pengumuman rencana.

Kas yang tergerus. Buyback besar saat kondisi bisnis sedang sulit bisa melemahkan posisi keuangan perusahaan.

Aksi korporasi lain yang juga perlu dibaca dengan teliti, seperti rights issue, kami bahas dalam rights issue.

Bila saham yang Anda pegang mengumumkan buyback, buka keterbukaan informasinya dan bandingkan nilai buyback dengan rata-rata nilai transaksi harian saham itu sebelum menilai seberapa besar dampaknya.