Bursa Efek Indonesia menjatuhkan sanksi kepada 70 emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026 hingga tenggat akhir September, menurut Bisnis.com. Sebagian di antaranya dikenai denda Rp150 juta. Bagi pemegang saham, emiten yang telat lapor keuangan adalah tanda yang perlu dicermati, bukan sekadar urusan administrasi.
Apa yang terjadi
Laporan keuangan interim per 30 Juni berisi kinerja paruh pertama tahun. Setiap emiten wajib menyampaikannya kepada OJK dan BEI sesuai tenggat yang ditetapkan.
Pada tahap awal, jumlah emiten yang terlambat lebih banyak. BEI sempat memberi peringatan tertulis pertama kepada 106 emiten yang belum menyampaikan laporan interim, menurut RCTI+. Sebagian kemudian menyusul, sehingga yang tersisa dan dikenai sanksi lanjutan menjadi 70 emiten, menurut Katadata.
Daftar lengkap emiten yang dikenai sanksi tercantum dalam pengumuman BEI, termasuk beberapa emiten dari grup usaha besar yang juga diberitakan media. Ini bukan kejadian baru. Keterlambatan serupa terjadi hampir setiap periode pelaporan, termasuk untuk laporan kuartal III dan laporan tahunan sebelumnya.
Urutan sanksi BEI untuk keterlambatan
Sanksi diberikan berjenjang sesuai lamanya keterlambatan, berdasarkan Peraturan Bursa tentang sanksi:
| Tahap | Sanksi |
|---|---|
| Terlambat hingga 30 hari | Peringatan tertulis I |
| Terlambat 31-60 hari | Peringatan tertulis II dan denda |
| Terlambat 61-90 hari | Peringatan tertulis III dan denda Rp150 juta |
| Mulai hari ke-91 | Penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham |
Suspensi juga bisa dijatuhkan bila emiten sudah menyerahkan laporan tetapi belum membayar denda keterlambatannya, menurut Kontan. Besaran denda pada tahap kedua bisa berbeda antarperiode, jadi rujuk pengumuman BEI untuk angka pastinya.
Bedanya laporan interim, kuartal, dan tahunan
Emiten menyampaikan beberapa jenis laporan keuangan dalam setahun, dengan tenggat yang berbeda:
- Laporan kuartal I dan III berisi kinerja tiga dan sembilan bulan pertama.
- Laporan interim per 30 Juni berisi kinerja semester pertama. Tenggatnya bergantung pada apakah laporan itu tidak diaudit, ditelaah terbatas, atau diaudit akuntan publik.
- Laporan tahunan berisi kinerja setahun penuh dan wajib diaudit.
Karena tenggatnya berbeda, jangan menyamakan satu periode dengan periode lain. Sanksi untuk 70 emiten kali ini berkaitan dengan laporan interim per 30 Juni 2026, bukan laporan kuartal III yang baru akan jatuh tempo kemudian.
Notasi khusus dan suspensi
Saham emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan biasanya diberi notasi khusus di sistem perdagangan. Notasi ini muncul di samping kode saham pada aplikasi sekuritas, sebagai tanda bagi investor bahwa ada kewajiban yang belum dipenuhi.
Bila keterlambatan berlanjut hingga suspensi, saham tidak bisa diperdagangkan di pasar reguler. Investor yang memegang saham itu tidak bisa menjual sampai suspensi dicabut. Dana yang tertanam di saham tersebut praktis tertahan.
Suspensi yang berlangsung sangat lama membuka risiko lebih besar. Berdasarkan aturan bursa, saham yang disuspensi berkepanjangan bisa dikeluarkan dari bursa atau *delisting*.
Kenapa telat lapor keuangan bisa jadi tanda bahaya
Tidak semua keterlambatan berarti perusahaan bermasalah. Ada yang terlambat karena pergantian auditor, proses audit yang rumit, atau kendala administrasi.
Namun, keterlambatan berulang atau berkepanjangan sering berkaitan dengan masalah yang lebih serius, misalnya kesulitan keuangan, sengketa dengan auditor, atau ketidakpastian kelangsungan usaha. Tanpa laporan keuangan, investor juga tidak bisa menilai kinerja dan valuasi dengan ukuran seperti PER dan PBV.
Keterlambatan juga bertolak belakang dengan upaya meningkatkan transparansi pasar modal yang sedang disorot MSCI. Isu transparansi kepemilikan kami bahas dalam free float.
Cara mengecek status emiten
- Lihat notasi khusus di samping kode saham pada aplikasi sekuritas. Arti setiap huruf notasi tersedia di situs BEI.
- Buka menu laporan keuangan di situs BEI dan pastikan laporan periode terakhir sudah ada.
- Cari pengumuman sanksi BEI yang menyebut kode saham tersebut, termasuk peringatan dan denda.
- Periksa riwayat. Emiten yang terlambat di beberapa periode berturut-turut perlu diwaspadai lebih serius.
- Baca keterbukaan informasi emiten untuk penjelasan resmi soal penyebab keterlambatan.
Untuk aksi korporasi yang mungkin diambil emiten bermasalah, seperti penambahan modal, baca juga rights issue.
Contoh dampak suspensi pada portofolio (angka ilustrasi)
Seorang investor memiliki portofolio saham Rp50 juta, dan Rp10 juta di antaranya ada di saham emiten yang kemudian disuspensi karena telat lapor keuangan.
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Total portofolio | Rp50 juta |
| Nilai di saham yang disuspensi | Rp10 juta |
| Dana yang tidak bisa dijual selama suspensi | Rp10 juta (20% portofolio) |
| Bila harga turun 30% saat dibuka kembali | Nilai menjadi Rp7 juta |
Selama suspensi, 20% portofolio tidak bisa dipakai untuk kebutuhan apa pun. Bila saat dibuka kembali harga turun 30%, kerugiannya Rp3 juta, dan penurunan bisa berlanjut beberapa hari. Contoh ini menunjukkan kenapa porsi saham dari emiten bermasalah sebaiknya dibatasi.
Risiko bagi pemegang saham
Dana tertahan. Saat saham disuspensi, Anda tidak bisa menjualnya meski membutuhkan dana.
Harga anjlok saat dibuka kembali. Setelah suspensi dicabut, harga bisa turun tajam bila kabar yang muncul buruk. Batas penurunan harian yang berlaku kami jelaskan dalam aturan ARB baru.
Informasi tidak lengkap. Tanpa laporan terbaru, keputusan investasi didasarkan pada data lama yang mungkin sudah tidak relevan.
Risiko delisting. Pada kasus terburuk, saham yang lama disuspensi bisa dikeluarkan dari bursa, dan investor kesulitan menjual sahamnya.
Bila emiten yang Anda pegang masuk daftar, cari tahu dulu penyebabnya lewat keterbukaan informasi sebelum memutuskan apa pun. Penjelasan yang masuk akal dan jadwal penyampaian yang jelas berbeda dengan emiten yang diam tanpa kabar. Daftar emiten yang terlambat bukan rekomendasi jual. Namun, saham dari emiten yang berulang kali terlambat sebaiknya tidak menjadi bagian besar portofolio.
Akhir pekan ini, periksa notasi khusus di setiap saham yang Anda pegang dan pastikan laporan keuangan terakhirnya sudah terbit.



