Harga minyak Brent ditutup di level tertinggi sejak awal Mei setelah serangan kelompok Houthi ke infrastruktur energi Arab Saudi. Pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026, harga minyak Brent bertahan di sekitar US$112,96 per barel, jauh di atas asumsi rata-rata US$100 yang dipakai pemerintah.

Kenapa harga minyak Brent naik lagi

Brent melonjak sekitar 4% pada perdagangan Kamis, 22 Oktober, dan ditutup di level tertinggi sejak 4 Mei, menurut data Reuters yang dikutip Beritasatu. Pemicunya adalah serangan Houthi lanjutan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, yang menambah premi risiko di pasar.

Beberapa hari sebelumnya, pasar sudah tertekan oleh gangguan di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal tanker yang terbakar setelah menabrak ranjau laut. Brent sudah menembus US$110 per barel pada pekan ini, menurut Katadata.

Pada Jumat pagi pukul 07.30 WIB, Brent turun tipis 0,2% ke US$112,96 per barel, sedangkan WTI di sekitar US$98,12, menurut Kontan. Harga minyak bergerak cepat, sehingga angka bisa berubah dalam hitungan jam.

Posisi harga terhadap asumsi APBN

Pemerintah sebelumnya menyatakan anggaran subsidi energi tahun ini disusun dengan asumsi rata-rata harga minyak sekitar US$100 per barel. Dengan Brent di atas US$110, ada selisih yang harus ditutup.

Meski begitu, pemerintah menjamin tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026, menurut Katadata. Artinya, selisih harga ditanggung lewat anggaran subsidi dan kompensasi kepada badan usaha.

Perlu dicatat, harga yang dipakai dalam perhitungan APBN adalah harga minyak mentah Indonesia (ICP), yang tidak persis sama dengan Brent, meski bergerak searah. Yang dihitung juga rata-rata setahun, bukan harga satu hari.

Dampak ke Indonesia: subsidi dan APBN

Beban subsidi bertambah. Setiap kenaikan harga minyak di atas asumsi menambah kebutuhan dana subsidi dan kompensasi energi. Di saat yang sama, rupiah yang melemah membuat impor minyak dalam dolar makin mahal.

Ruang belanja lain menyempit. Tambahan subsidi bisa menekan pos belanja lain atau menambah defisit. Ini terjadi ketika pemerintah juga menyatakan siap berhemat bila situasi menuntut. Cara membaca defisit anggaran ada di cara membaca defisit APBN.

Penerimaan migas ikut naik. Di sisi lain, harga minyak tinggi juga menaikkan penerimaan negara dari sektor hulu migas. Namun karena Indonesia adalah pengimpor bersih minyak, beban subsidi umumnya lebih besar daripada tambahan penerimaan.

Rupiah tertekan. Kebutuhan dolar untuk impor minyak bertambah saat harga naik. Rupiah sudah bergerak di sekitar Rp18.000 per dolar AS pekan ini.

Kenapa serangan di Arab Saudi berpengaruh besar

Arab Saudi adalah salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Gangguan pada fasilitas produksi atau pengapalannya bisa mengurangi pasokan global dalam waktu singkat, sehingga pasar langsung memasukkan premi risiko ke dalam harga.

Selat Hormuz juga merupakan jalur pelayaran utama minyak dari kawasan Teluk. Kapal yang terkena ranjau atau serangan membuat ongkos asuransi dan pengiriman naik, dan sebagian pembeli mencari pasokan dari tempat lain dengan harga lebih mahal.

Selama ketegangan berlanjut, harga cenderung bergejolak. Kabar perundingan atau gencatan senjata bisa menurunkan harga dengan cepat, begitu pula sebaliknya.

Dampak ke BBM nonsubsidi dan harga barang

Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Dexlite disesuaikan secara berkala oleh badan usaha, umumnya setiap awal bulan. Harga untuk November akan diumumkan sekitar 1 November. Ongkos harian bila harga berubah bisa dihitung seperti di harga Pertamax dan ongkos harian.

Dampak tidak langsung datang lewat ongkos logistik, bahan baku plastik, dan barang impor. Kaitan rupiah dan harga barang kami uraikan di rupiah melemah, barang apa yang naik. Gambaran dampak saat minyak pertama kali menembus US$100 tahun ini ada di minyak dunia tembus US$100.

Yang perlu dipantau

  • Perkembangan serangan di Arab Saudi dan keamanan pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
  • Harga BBM nonsubsidi November yang diumumkan awal bulan.
  • Rata-rata ICP Oktober yang dirilis Kementerian ESDM.
  • Pergerakan rupiah dan keputusan rapat The Fed pada 27-28 Oktober.
  • Pernyataan pemerintah soal tambahan anggaran subsidi atau penghematan.

Pengalaman awal tahun ini menunjukkan harga bisa turun secepat naiknya: Brent sempat di atas US$119 pada Maret, lalu kembali ke kisaran US$99 pada September. Karena itu, keputusan belanja sebaiknya tidak didasarkan pada harga satu hari.

Bagi rumah tangga, langkah yang paling masuk akal saat ini adalah menyiapkan sedikit ruang di anggaran transportasi dan belanja, alih-alih menimbun BBM yang justru berisiko.