Harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel sepanjang September hingga awal Oktober 2026. Minyak Brent sempat mendekati US$110 dan WTI di kisaran US$104-105 per barel, menurut paparan riset Kiwoom yang dikutip Kabar Bursa.
Angka itu jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$90 per barel. Selisihnya tidak berhenti di anggaran negara, tetapi merambat ke rupiah, harga BBM, dan ongkos hidup sehari-hari.
Apa yang terjadi dengan harga minyak dunia
Harga minyak naik tajam tahun ini karena konflik di Timur Tengah dan sempat menyentuh puncak sekitar US$132 per barel pada September sebelum turun. Harga sempat jatuh ke bawah US$100, lalu kembali naik. Pergerakannya masih sangat bergejolak dan dipengaruhi kondisi geopolitik, keputusan produsen besar, serta prospek ekonomi global.
Bagi Indonesia, yang penting bukan hanya angka harian, melainkan berapa lama harga bertahan di atas asumsi anggaran.
Mengapa minyak mahal terasa sampai Indonesia
Indonesia dulu dikenal sebagai negara pengekspor minyak. Namun, produksi minyak dalam negeri terus menurun, sementara konsumsi BBM naik seiring bertambahnya kendaraan dan kegiatan ekonomi. Akibatnya, sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM harus diimpor.
Harga minyak dunia biasanya diukur dengan dua patokan utama: Brent, yang banyak dipakai untuk minyak dari Eropa dan Timur Tengah, serta West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat. Pemerintah memakai patokan sendiri bernama Indonesian Crude Price (ICP) untuk menyusun anggaran. ICP biasanya bergerak searah dengan Brent.
Karena impor dibayar dalam dolar AS, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah saling memperkuat. Harga minyak dalam dolar naik, dan setiap dolar juga perlu dibeli dengan rupiah yang lebih banyak.
Dampak ke APBN dan subsidi energi
Indonesia adalah importir bersih minyak. Ketika harga minyak naik, biaya pengadaan BBM bersubsidi dan kompensasi kepada Pertamina ikut naik.
Di sisi lain, penerimaan negara dari sektor minyak dan gas juga naik. Namun, kenaikan belanja subsidi dan kompensasi biasanya lebih besar daripada tambahan penerimaan. Hasil bersihnya cenderung menambah tekanan pada defisit anggaran.
Untuk memahami angka defisit dan artinya bagi warga, baca cara membaca defisit APBN.
Pemerintah sejauh ini memilih menahan harga BBM bersubsidi. Harga Pertalite Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 per liter dinyatakan tidak berubah hingga akhir 2026. Artinya, selisih harga ditanggung anggaran.
Dampak ke rupiah dan cadangan devisa
Impor minyak dan BBM dibayar dengan dolar AS. Harga minyak yang tinggi menambah kebutuhan dolar, yang ikut menekan rupiah. Rupiah berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS pada 13 Oktober 2026, menurut Bisnis.com.
Bank Indonesia memakai cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah bila diperlukan. Hubungan antara cadangan devisa dan nilai tukar dijelaskan di artikel cadangan devisa dan rupiah.
Ada faktor penyeimbang. Neraca perdagangan Indonesia masih surplus US$7,25 miliar pada Januari-Agustus 2026, ditopang ekspor komoditas seperti batu bara dan minyak sawit yang harganya ikut terdorong naik ketika energi mahal.
Dampak ke harga BBM dan ongkos hidup
BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, mengikuti harga pasar lebih dekat. Harga Pertamax sempat ditahan, tetapi penyesuaian tetap mungkin terjadi bila harga minyak bertahan tinggi. Hitungan dampaknya ke ongkos harian ada dalam ulasan harga Pertamax.
Kenaikan harga energi juga merambat ke barang lain lewat ongkos angkut, biaya produksi, dan harga plastik serta pupuk. Efeknya tidak selalu langsung, tetapi bisa terasa dalam beberapa bulan.
Harga avtur yang tinggi memengaruhi tarif penerbangan. Ini menjadi perhatian menjelang musim liburan akhir tahun.
Kenaikan harga juga bisa memengaruhi inflasi. Bila harga BBM nonsubsidi, ongkos angkut, dan tiket pesawat naik bersamaan, inflasi bulanan bisa terdorong. Inflasi yang lebih tinggi dapat membuat Bank Indonesia lebih berhati-hati menurunkan suku bunga, sehingga bunga kredit juga cenderung bertahan tinggi.
Siapa yang paling terdampak
Rumah tangga yang memakai BBM nonsubsidi untuk kendaraan pribadi merasakan dampak paling langsung bila harga disesuaikan.
Pelaku usaha yang bergantung pada transportasi, seperti logistik, ojek daring, dan nelayan, juga sensitif terhadap harga BBM. Industri yang memakai bahan baku turunan minyak, seperti plastik dan kemasan, menghadapi biaya produksi lebih tinggi.
Sebaliknya, eksportir komoditas energi dan perusahaan hulu migas bisa menikmati harga jual yang lebih tinggi. Daerah penghasil migas juga bisa menerima dana bagi hasil yang lebih besar dari pemerintah pusat.
Petani dan nelayan berada di posisi sulit. Ongkos solar untuk perahu dan mesin pertanian, serta harga pupuk nonsubsidi, ikut terdorong oleh harga energi. Di sisi lain, harga jual hasil panen dan tangkapan tidak selalu naik secepat ongkosnya.
Skenario ke depan
Ada beberapa kemungkinan dalam beberapa bulan ke depan:
- Harga turun ke bawah US$90. Tekanan pada anggaran dan rupiah mereda.
- Harga bertahan US$95-110. Pemerintah kemungkinan tetap menahan BBM bersubsidi, tetapi ruang fiskal menyempit dan BBM nonsubsidi bisa disesuaikan.
- Harga naik tajam di atas US$120. Tekanan meningkat dan opsi kebijakan, termasuk penyesuaian harga, makin terbuka.
Skenario ini bukan prediksi, melainkan kerangka untuk membaca berita berikutnya. Pantau pengumuman resmi pemerintah dan Pertamina.
Yang bisa dilakukan rumah tangga
Rumah tangga tidak bisa mengendalikan harga minyak, tetapi bisa bersiap. Sisihkan ruang anggaran untuk kemungkinan kenaikan ongkos transportasi. Gabungkan perjalanan, rawat kendaraan agar efisien, dan pertimbangkan transportasi umum bila tersedia.
Bagi pelaku usaha, hitung ulang ongkos kirim dan biaya bahan yang terkait energi. Bandingkan beberapa jasa pengiriman dan pertimbangkan mengirim dalam jumlah lebih besar agar ongkos per unit lebih rendah. Bila perlu, siapkan rencana penyesuaian harga yang bertahap dan transparan.
Mulai bulan ini, catat pengeluaran transportasi keluarga secara terpisah agar Anda tahu persis berapa ruang anggaran yang dibutuhkan bila harga BBM nonsubsidi disesuaikan.



