The Federal Reserve dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 27-28 Oktober 2026. Rapat The Fed kali ini datang saat inflasi AS naik ke 3,7% dan rupiah sudah berada di atas Rp18.000 per dolar AS, sehingga keputusannya ikut menentukan tekanan pada rupiah dan ruang gerak Bank Indonesia.

Posisi suku bunga menjelang rapat The Fed

Suku bunga acuan The Fed kini berada di kisaran 3,75-4,00% setelah kenaikan 25 basis poin pada September 2026, kenaikan pertama sejak 2023. Inflasi konsumen AS September naik 3,7% secara tahunan, dengan inflasi inti 2,6%, sedikit di atas perkiraan, menurut IDX Channel.

Risalah rapat September menunjukkan sebagian besar peserta menilai kenaikan lanjutan kemungkinan tepat dilakukan sebelum akhir tahun, menurut IDN Financials. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi petunjuk soal keputusan Oktober, menurut Kompas.com.

Data penting menjelang rapat The Fed (sumber: IDX Channel, IDN Financials, Kompas.com)
IndikatorPosisi
Suku bunga acuan The Fed3,75-4,00%
Inflasi konsumen AS September 20263,7% (tahunan)
Inflasi inti AS September 20262,6% (tahunan)
Jadwal rapat27-28 Oktober 2026

Skenario 1: suku bunga ditahan

Sejumlah analis, termasuk Goldman Sachs, menilai pernyataan Warsh dan anggota rapat lain mengarah pada penahanan suku bunga di Oktober, dengan kemungkinan kenaikan pada Desember, menurut Kompas.com.

Penahanan juga memberi waktu bagi The Fed melihat data inflasi berikutnya sebelum mengambil langkah lain. Bila suku bunga ditahan, tekanan tambahan pada rupiah dari sisi suku bunga AS relatif berkurang dalam jangka pendek. Namun, bila The Fed memberi sinyal kenaikan pada Desember, pasar bisa tetap berhati-hati, dan dolar tidak otomatis melemah.

Skenario 2: suku bunga naik lagi

Bila The Fed menaikkan suku bunga lagi, selisih imbal hasil antara aset dolar dan aset rupiah menyempit. Dana global cenderung kembali ke AS, dolar menguat, dan mata uang negara berkembang seperti rupiah tertekan.

Pasar saham negara berkembang biasanya ikut tertekan karena investor global mengurangi aset berisiko. Kenaikan juga membuat biaya pinjaman dalam dolar lebih mahal bagi perusahaan dan pemerintah yang punya utang valas.

Dampak ke Indonesia: rupiah, BI, dan arus modal

Rupiah. Rupiah melemah ke Rp18.073 per dolar AS pada 16 Oktober 2026, dan Bank Indonesia mengintensifkan intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF, serta membeli SBN, menurut RMOL. Keputusan The Fed akan menambah atau mengurangi tekanan tersebut.

BI-Rate. Bank Indonesia menggelar rapat dewan gubernur pada 20-21 Oktober, sepekan sebelum The Fed. Skenario dan dampaknya ke cicilan kami bahas dalam BI-Rate Oktober. Bila The Fed menaikkan suku bunga, ruang BI untuk menurunkan bunga makin sempit, dan tekanan untuk menahan atau menaikkan bunga bertambah.

Arus modal. Pasar saham Indonesia sedang tertekan isu MSCI, dengan jual bersih asing besar pada pekan lalu. Kenaikan suku bunga AS bisa menambah alasan dana asing keluar. Cara membaca data ini tanpa panik ada di net sell asing.

Cicilan dan harga. Rupiah yang lemah membuat barang impor lebih mahal, dan bunga yang tinggi membuat kredit berbunga mengambang ikut naik dengan jeda waktu. Jalur dampak keputusan September kami uraikan dalam suku bunga The Fed naik. Cara mengecek jenis bunga KPR Anda ada di BI-Rate dan cicilan KPR.

Yang perlu dipantau

  • Hasil RDG Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026.
  • Data ekonomi AS sebelum rapat, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja.
  • Pengumuman The Fed yang biasanya keluar dini hari 29 Oktober waktu Indonesia, termasuk proyeksi dan nada pernyataan Ketua The Fed.
  • Pergerakan rupiah dan intervensi Bank Indonesia sesudahnya.

Contoh: bila bunga KPR mengambang ikut naik (angka ilustrasi)

Kenaikan suku bunga AS tidak langsung mengubah cicilan di Indonesia. Namun, bila tekanan berlanjut dan bunga di dalam negeri ikut naik, KPR berbunga mengambang biasanya menyesuaikan dalam beberapa bulan.

Contoh perubahan cicilan KPR Rp500 juta, sisa tenor 15 tahun (angka ilustrasi)
Bunga KPR per tahunCicilan per bulanSelisih dari bunga 9%
9,00%±Rp5.071.000-
9,25%±Rp5.146.000±Rp75.000
9,50%±Rp5.221.000±Rp150.000

Kenaikan 0,25 poin persentase menambah cicilan sekitar Rp75.000 per bulan dalam contoh ini, atau sekitar Rp900.000 per tahun. Angkanya kecil per bulan, tetapi terasa bila terjadi beberapa kali dan bersamaan dengan kenaikan harga barang.

Risiko bagi rumah tangga dan pelaku usaha

Keputusan The Fed hanyalah salah satu faktor. Risiko terbesar bukan pada satu keputusan, melainkan pada kombinasi suku bunga AS yang tinggi, rupiah yang lemah, dan arus modal yang keluar. Bagi rumah tangga dengan KPR bunga mengambang, ini berarti potensi cicilan naik. Bagi usaha yang bergantung pada bahan impor, biaya bisa terus bertambah, dan penyesuaian harga jual perlu dihitung lebih awal.

Sebelum 29 Oktober, cek jenis bunga semua cicilan Anda dan hitung berapa tambahan cicilan bila bunga naik 0,25 poin persentase.