Rincian keputusan dan dampaknya bagi rupiah, cicilan, dan deposito ada di BI-Rate Oktober ditahan 5,75%.

Rupiah ditutup di Rp18.027 per dolar AS pada Jumat 16 Oktober 2026, melemah 89 poin dalam sehari. Empat hari kemudian, Bank Indonesia menggelar rapat untuk memutuskan BI-Rate Oktober, dan pertanyaannya kini lebih tajam: apakah bunga akan dinaikkan untuk menahan rupiah?

Posisi rupiah dan tekanan pekan ini

Pelemahan rupiah pekan ini datang dari dua arah. Dari luar, bank sentral AS sudah menaikkan suku bunga ke 3,75-4,00% pada September, dan data inflasi AS September yang naik ke 3,7% memunculkan kekhawatiran kenaikan lanjutan.

Dari dalam, usulan MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia ke *standalone market* memicu jual bersih asing di pasar saham. IHSG ditutup anjlok 11,57% pada Jumat, dan rupiah sempat melemah hingga 140 poin di pasar spot sebelum ditutup di Rp18.027, menurut iNews. Kronologi pasar saham hari itu kami uraikan dalam IHSG dihentikan 30 menit.

Sebagai pembanding, sehari setelah The Fed menaikkan bunga pada September, rupiah berada di Rp17.744, menurut Investor Trust.

Pilihan BI-Rate Oktober pada rapat 20-21 Oktober

BI-Rate berada di 5,75% sejak Juni 2026, setelah naik total 100 basis poin pada Mei-Juni. Rapat Dewan Gubernur digelar 20-21 Oktober, dan keputusan biasanya diumumkan pada hari kedua.

BI punya beberapa pilihan, dan bisa memakai lebih dari satu sekaligus:

  • Menahan BI-Rate di 5,75% sambil memperkuat intervensi di pasar valuta asing. Pilihan ini menjaga biaya kredit, tetapi bergantung pada kekuatan cadangan devisa.
  • Menaikkan BI-Rate, misalnya 25 basis poin, untuk membuat aset rupiah lebih menarik. Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan BI-Rate naik ke 6% hingga akhir 2026, menurut Bisnis.com.
  • Memakai instrumen lain, seperti penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pembatasan pembelian dolar tanpa kebutuhan dasar.

Cadangan devisa tercatat US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Cara kerja cadangan devisa dalam menjaga rupiah kami jelaskan dalam cadangan devisa dan rupiah.

Belajar dari kenaikan Mei-Juni

Tekanan seperti ini bukan yang pertama tahun ini. Saat rupiah dan arus modal tertekan pada Mei-Juni 2026, BI menaikkan BI-Rate total 100 basis poin dan memperbanyak penerbitan SRBI. Langkah itu, menurut analis yang dikutip Investor Trust, memberi BI ruang untuk menahan suku bunga pada September ketika The Fed menaikkan bunganya.

Bedanya, tekanan pekan ini datang bersamaan dari pasar saham, pasar uang, dan kebijakan AS. Pasar akan membaca keputusan BI bukan hanya dari angka BI-Rate, tetapi juga dari sinyal yang diberikan untuk beberapa bulan ke depan.

Dampak bagi cicilan dan tabungan

Bila BI-Rate ditahan, bunga kredit cenderung bertahan di level sekarang. Bila naik, bank biasanya menyesuaikan bunga kredit berbunga mengambang secara bertahap, mengikuti jadwal penyesuaian di perjanjian kredit.

Contoh perubahan cicilan KPR berbunga mengambang, sisa pokok Rp300 juta, sisa tenor 15 tahun (angka ilustrasi)
Bunga KPR per tahunCicilan per bulanSelisih
9,00%±Rp3.042.800-
9,25%±Rp3.087.600±Rp44.800
9,50%±Rp3.132.700±Rp89.900

Angka di atas hanya contoh cara menghitung. Kenaikan bunga KPR tidak selalu sama dengan kenaikan BI-Rate, karena bank juga memperhitungkan biaya dana dan risikonya sendiri.

KPR berbunga tetap tidak berubah selama masa bunga tetap. Yang perlu diperhatikan adalah pemilik KPR yang masa bunga tetapnya akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan, karena bunga mengambangnya akan mengikuti kondisi suku bunga saat itu.

Di sisi tabungan, bunga deposito dan imbal hasil instrumen pasar uang cenderung ikut naik bila BI-Rate naik. Bagi penabung, ini bisa menguntungkan, tetapi tetap perlu dibandingkan dengan inflasi.

Skenario dampak per jenis cicilan kami rinci dalam panduan BI-Rate Oktober 2026.

Risiko bila rupiah terus melemah

Harga barang impor. Rupiah yang lemah lebih lama membuat harga barang dan bahan baku impor naik, dari elektronik sampai pangan olahan. Efeknya biasanya terasa beberapa minggu sampai bulan kemudian.

Beban utang dalam dolar. Perusahaan dan pemerintah yang berutang dalam dolar perlu rupiah lebih banyak untuk membayar cicilan. Bagi rumah tangga, efeknya bisa muncul lewat harga produk dari perusahaan yang biaya utangnya naik.

Ruang kebijakan yang menyempit. Bila BI menaikkan bunga untuk menahan rupiah, kredit menjadi lebih mahal dan bisa menahan pertumbuhan ekonomi. Bila tidak, tekanan pada rupiah bisa berlanjut. Pilihan ini yang membuat keputusan pekan depan sulit diprediksi.

Yang dipantau saat pengumuman

  • Keputusan BI-Rate dan alasan yang disampaikan Gubernur BI.
  • Pernyataan soal intervensi dan posisi cadangan devisa.
  • Proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang diperbarui.
  • Reaksi rupiah dan pasar saham sesudahnya.

Sebelum Rabu, buka perjanjian KPR atau kredit Anda dan catat kapan bunga berikutnya disesuaikan; dari situ Anda tahu kapan keputusan BI bisa mulai terasa di cicilan.