Pesan berantai soal "rekening gratis berisi Rp50 ribu dari pemerintah" mulai ramai di grup WhatsApp. Programnya memang ada, tetapi rekening saldo Rp50 ribu itu belum dibagikan, dan pendaftarannya belum dibuka.
Apa yang sudah diumumkan soal rekening saldo Rp50 ribu
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah akan membukakan rekening bank dengan saldo awal Rp50.000 bagi warga yang belum punya rekening. Cakupan maksimumnya sekitar 200 juta penduduk, dengan anggaran sekitar Rp11 triliun dari APBN, menurut Investor Trust.
Tujuannya inklusi keuangan, yaitu membuat lebih banyak warga punya akses ke layanan bank. Rekening direncanakan terhubung dengan NIK di Dukcapil untuk mencegah rekening ganda. Bank pelaksana yang disebut pada tahap awal adalah BRI dan BSI.
| Aspek | Status |
|---|---|
| Saldo awal | Rp50.000, direncanakan tanpa potongan biaya |
| Cakupan | Hingga sekitar 200 juta penduduk, belum final |
| Anggaran | Sekitar Rp11 triliun dari APBN |
| Bank pelaksana | BRI dan BSI pada rencana awal |
| Kriteria penerima | Belum diputuskan |
| Jadwal | Ditargetkan mulai sebelum akhir 2026, bertahap |
| Cara daftar | Belum diumumkan |
Kenapa pemerintah membuka rekening untuk warga
Masih banyak warga dewasa yang belum punya rekening bank. Data Bank Dunia yang dikutip Investor Trust mencatat kepemilikan rekening penduduk dewasa Indonesia naik dari 51% pada 2011 menjadi 76% pada 2021. Artinya, sekitar satu dari empat orang dewasa belum tersentuh layanan bank pada saat itu.
Tanpa rekening, warga sulit menerima gaji secara nontunai, menabung dengan aman, atau mengakses kredit resmi. Mereka juga lebih mudah terjerat pinjaman ilegal karena tidak punya riwayat di lembaga keuangan formal.
Ada catatan soal anggarannya. Bila 200 juta orang masing-masing mendapat Rp50.000, totalnya Rp10 triliun, sementara anggaran yang disebut sekitar Rp11 triliun. Selisih sekitar Rp1 triliun itu belum dijelaskan, kemungkinan untuk biaya pelaksanaan. Belum jelas pula apakah anggaran masuk APBN 2026 atau dibagi hingga 2027.
Siapa yang mungkin mendapat
Pemerintah belum merinci penerimanya. Kelompok yang sedang dipertimbangkan, menurut Investor Trust, antara lain pemilik KTP baru yang berusia 17 tahun, penduduk dewasa yang belum punya rekening, dan kelompok lain yang membutuhkan akses keuangan.
Sejumlah pemberitaan menyebut angka 25,1 juta warga di desil 1-4 dengan jadwal mulai November 2026. Kami belum menemukan pengumuman resmi yang mengonfirmasi angka maupun jadwal itu, jadi angka tersebut sebaiknya belum dipegang sebagai kepastian.
Yang jelas, bila Anda sudah memiliki rekening bank, saldo Rp50 ribu tidak akan masuk otomatis ke rekening itu. Program ini dirancang sebagai saldo pembuka untuk rekening baru.
Bedanya dengan bantuan sosial
Bansos seperti PKH, BPNT, atau bantuan pangan beras menyasar keluarga berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional, dan bantuannya berulang. Program rekening ini tidak dimaksudkan sebagai bantuan rutin. Saldo Rp50 ribu hanya pemicu agar rekening baru terbuka dan dipakai.
Karena itu, cara mengecek status penerima bansos, seperti langkah di cek penerima bansos beras, tidak bisa dipakai untuk program rekening ini. Sampai kriteria dan mekanismenya diumumkan, belum ada daftar penerima yang bisa dicek.
Cara memastikan informasi resmi
Informasi resmi akan datang dari Kemenko Perekonomian, Bank Indonesia, OJK, atau bank pelaksana melalui situs dan akun media sosial terverifikasi mereka. Pemberitaan media arus utama biasanya mengutip pengumuman tersebut lengkap dengan nama pejabat dan tanggalnya.
Ciri informasi yang patut dicurigai:
- Disebarkan lewat pesan berantai tanpa nama lembaga dan tanggal yang jelas.
- Meminta Anda mengisi formulir di tautan pendek atau situs dengan nama aneh.
- Menjanjikan saldo lebih besar bila mengajak orang lain mendaftar.
- Meminta biaya "aktivasi" atau "administrasi" sebelum saldo cair.
Modus penipuan yang menumpang program
Program bantuan pemerintah hampir selalu diikuti pesan palsu. Pola yang sering muncul adalah tautan "cek penerima" yang sebenarnya halaman pencuri data, atau berkas aplikasi berakhiran APK yang setelah dipasang bisa membaca SMS dan kode OTP di ponsel Anda.
Data seperti NIK, foto KTP, dan swafoto memegang KTP sangat berharga bagi penipu. Data itu bisa dipakai untuk membuka pinjaman online atau rekening penampung hasil kejahatan atas nama Anda.
Bila sudah telanjur mengisi data atau mentransfer uang, hubungi bank Anda segera dan simpan semua bukti. Langkah lengkapnya kami rinci dalam melapor penipuan transfer.
Risiko rekening yang jarang dipakai
Rekening baru yang tidak dipakai berisiko menjadi rekening dorman. Bank bisa membekukan atau menutup rekening yang lama tidak aktif sesuai ketentuannya, dan saldo kecil bisa tergerus bila ada biaya di kemudian hari. Pemerintah merencanakan saldo awal tanpa potongan, tetapi aturan untuk rekening tidak aktif belum diputuskan.
Risiko lain yang lebih serius adalah rekening dipinjam atau dibeli orang lain. Pemilik rekening yang dipakai untuk menampung uang hasil penipuan atau judi daring bisa ikut berurusan dengan hukum. Jangan pernah meminjamkan atau menjual rekening, termasuk rekening yang dibuka lewat program pemerintah.
Bila rekening sudah dibuka
Begitu program berjalan dan rekening Anda aktif, ada beberapa kebiasaan yang membantu:
- Simpan buku tabungan atau kartu di tempat aman, dan catat nomor layanan resmi bank.
- Aktifkan aplikasi bank resmi yang diunduh dari toko aplikasi, lalu buat PIN yang tidak mudah ditebak.
- Gunakan rekening untuk transaksi rutin, misalnya menerima gaji atau menabung sedikit setiap bulan, agar tetap aktif.
- Jangan bagikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk yang mengaku petugas bank.
Program ini bisa menjadi pintu masuk ke layanan keuangan formal. Manfaatnya baru terasa bila rekening itu benar-benar dipakai dan dijaga keamanannya. Cara toko online palsu memancing data, yang juga sering memakai iming-iming saldo gratis, kami bahas di toko online palsu.
Simpan pesan berantai yang Anda terima tanpa membuka tautannya, lalu cocokkan isinya dengan situs resmi Kemenko Perekonomian atau bank pelaksana sebelum membagikannya ke keluarga.



