Rp14,42 triliun. Sebanyak itu KUR syariah yang sudah mengalir ke lebih dari 146 ribu pelaku usaha hingga 30 September 2026, menurut Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Bagi UMKM yang ingin modal bersubsidi tanpa akad bunga, berikut cara kerja dan syaratnya.

Realisasi KUR syariah 2026

Realisasi Rp14,42 triliun itu setara 64% dari target tahun ini, menurut Jawa Pos. Secara kumulatif sejak 2015, pembiayaan ini sudah disalurkan Rp106 triliun kepada 1,65 juta debitur melalui 18 lembaga penyalur, termasuk bank pembangunan daerah dan unit usaha syariah.

Pemerintah menyebut perluasan program ini sebagai salah satu dari empat fokus keuangan syariah inklusif, bersama perluasan akses rekening syariah, layanan syariah digital, dan penguatan industri.

Pangsa pasar perbankan syariah sendiri masih sekitar 7,44%, dengan pembiayaan Rp748 triliun per Agustus 2026. Artinya, ruang bagi pelaku usaha untuk memakai layanan syariah masih luas.

Cara kerja KUR syariah dan akadnya

Program ini adalah Kredit Usaha Rakyat yang disalurkan dengan prinsip syariah. Bedanya ada pada akad, bukan pada tujuan program. Keduanya sama-sama untuk modal kerja dan investasi usaha produktif dengan subsidi dari pemerintah.

Dalam KUR konvensional, bank memberi pinjaman uang dan menarik bunga. Dalam skema syariah, bank memakai akad jual beli atau sewa. Akad yang umum dipakai antara lain:

  • Murabahah, yaitu bank membeli barang yang dibutuhkan usaha, lalu menjualnya kepada nasabah dengan harga pokok ditambah margin yang disepakati di awal.
  • Ijarah, yaitu sewa atas manfaat barang atau jasa yang dibutuhkan usaha.

Karena margin disepakati di awal, cicilan bersifat tetap sepanjang tenor. Nasabah tidak terpengaruh perubahan suku bunga acuan selama akad berjalan.

Jenis, plafon, dan margin

Pembagian jenisnya mengikuti skema KUR nasional. Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com tentang KUR di bank syariah, pembagiannya kurang lebih sebagai berikut:

Jenis KUR syariah dan plafonnya (sumber: Bisnis.com; cek ketentuan terbaru di bank penyalur)
JenisPlafonCatatan
Super mikroHingga Rp10 jutaUntuk usaha sangat kecil dan pemula
MikroDi atas Rp10 juta hingga Rp100 jutaUsaha umumnya sudah berjalan minimal 6 bulan
KecilDi atas Rp100 juta hingga Rp500 jutaBisa diminta agunan tambahan dan NPWP

Marginnya untuk skema mikro dan kecil setara 6% efektif per tahun karena disubsidi pemerintah. Tenor berbeda menurut jenis pembiayaan, apakah modal kerja atau investasi. Informasi tenor maksimal di sejumlah media berbeda, jadi pastikan angka pastinya di bank penyalur sebelum menandatangani akad.

Langkah mengajukan pembiayaan

  1. Pilih bank syariah atau unit usaha syariah penyalur yang paling dekat dengan lokasi usaha.
  2. Siapkan dokumen dan catatan keuangan usaha minimal enam bulan terakhir.
  3. Ajukan permohonan di kantor cabang atau kanal digital resmi bank. Sebagian bank menyediakan formulir pengajuan daring.
  4. Petugas bank akan mewawancarai dan biasanya mengunjungi tempat usaha untuk menilai kelayakan.
  5. Bila disetujui, baca akad dengan teliti sebelum menandatanganinya, terutama harga pokok, margin, tenor, dan jadwal cicilan.

Proses biasanya memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung kelengkapan dokumen dan antrean di bank. Simpan salinan akad dan tabel angsuran di tempat yang aman.

Syarat dan dokumen pengajuan

Syarat umumnya serupa dengan KUR konvensional:

  • Memiliki usaha produktif dan layak yang sudah berjalan.
  • Warga negara Indonesia dengan KTP elektronik.
  • Tidak sedang menerima kredit produktif lain dari perbankan, kecuali yang dikecualikan ketentuan.
  • Riwayat pembiayaan lancar.

Dokumen yang biasanya diminta:

  • KTP pemohon dan pasangan, serta Kartu Keluarga.
  • Surat izin usaha atau Nomor Induk Berusaha (NIB).
  • NPWP untuk plafon di atas batas tertentu.
  • Catatan keuangan usaha sederhana, seperti catatan penjualan dan pengeluaran.

Sebelum mengajukan, cek riwayat kredit Anda sendiri. Pembiayaan yang menunggak di tempat lain bisa membuat pengajuan ditolak.

Riwayat kredit bisa dicek secara daring lewat layanan iDebKu milik OJK. Bila ada catatan yang keliru, ajukan perbaikan ke lembaga yang melaporkannya sebelum mengajukan pembiayaan baru. Tunggakan kecil, seperti tagihan paylater yang terlupa, juga tercatat dan bisa memengaruhi penilaian bank.

KUR syariah atau KUR biasa: cara memilih

Dari sisi biaya, skema syariah dan konvensional relatif setara karena sama-sama disubsidi pemerintah dengan tingkat setara 6% per tahun. Perbedaan utamanya ada pada akad dan preferensi nasabah.

Pilih KUR syariah bila Anda ingin pembiayaan yang sesuai prinsip syariah, nyaman dengan akad jual beli atau sewa, dan dekat dengan bank syariah penyalur. Pilih KUR biasa bila bank penyalur konvensional lebih mudah dijangkau atau Anda sudah punya hubungan baik dengan bank tersebut.

Bandingkan juga kualitas layanan, kecepatan proses, dan biaya lain seperti asuransi pembiayaan. Untuk skema konvensional, syarat dan simulasinya kami rangkum dalam panduan KUR bunga flat.

Contoh simulasi cicilan (angka ilustrasi)

Misalkan pembiayaan murabahah Rp50 juta untuk membeli mesin produksi, dengan margin setara 6% per tahun dan tenor tiga tahun. Total margin kira-kira dihitung di awal dan dibagi rata ke dalam cicilan bulanan.

Dalam ilustrasi sederhana, cicilan bulanan sekitar Rp1,5 juta, tergantung metode perhitungan margin bank. Angka ini hanya untuk memberi gambaran. Minta tabel angsuran resmi dari bank sebelum menandatangani akad.

Pastikan cicilan tidak melebihi sepertiga laba bersih bulanan usaha. Sisakan ruang untuk bulan-bulan sepi, misalnya setelah musim liburan, agar cicilan tetap terbayar ketika penjualan turun.

Sebagai pembanding, hitung juga berapa tambahan laba yang diharapkan dari mesin atau stok baru tersebut. Bila tambahan laba per bulan tidak jauh di atas cicilan, rencana pembiayaan perlu ditinjau ulang. Bila margin usaha sedang tertekan karena bahan baku naik, hitung ulang harga jual lebih dulu. Gunakan langkah dalam cara menaikkan harga jual.

Kesalahan yang perlu dihindari saat mengajukan

Memakai dana untuk konsumsi. Pembiayaan ini untuk usaha produktif. Memakai dana untuk kebutuhan pribadi membuat usaha tidak menghasilkan tambahan pendapatan untuk membayar cicilan.

Tidak memahami akad. Baca dan tanyakan isi akad, termasuk harga pokok, margin, tenor, dan ketentuan bila terjadi keterlambatan.

Mengambil plafon terlalu besar. Plafon yang disetujui bukan berarti harus diambil seluruhnya. Ajukan sesuai kebutuhan usaha yang sudah dihitung, misalnya harga mesin atau kebutuhan stok untuk dua sampai tiga bulan.

Mengabaikan jadwal cicilan. Keterlambatan tercatat dalam riwayat pembiayaan dan bisa menyulitkan pengajuan berikutnya. Atur pengingat atau pendebetan otomatis dari rekening usaha.

Melalui perantara berbayar. Pengajuan KUR tidak memerlukan calo. Ajukan langsung ke bank penyalur atau kanal resmi.

Tidak mencatat keuangan usaha. Catatan penjualan sederhana membantu bank menilai kelayakan dan membantu Anda memantau kemampuan bayar. Pembayaran digital seperti QRIS juga meninggalkan jejak transaksi yang rapi.

Sebelum ke bank, siapkan catatan penjualan enam bulan terakhir dan hitung cicilan yang sanggup Anda bayar dari laba bersih, lalu bawa angka itu saat mengajukan.