Badan Pusat Statistik akan merilis angka PDB kuartal III 2026 pada awal November. Pemerintah yakin ekonomi semester II tumbuh di atas 5,5%, sementara sebagian ekonom mengingatkan tekanan dari dolar AS yang kuat, suku bunga global, dan daya beli yang melemah.
Posisi pertumbuhan ekonomi terakhir
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I 2026, lalu melambat ke 5,29% pada kuartal II, menurut CNBC Indonesia. Angka kuartal II itu lebih tinggi dari konsensus ekonom, yang memperkirakan 5,12%.
Secara kumulatif, pertumbuhan semester I tercatat 5,45%. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan angka ini dalam sidang kabinet 21 Oktober dan menyebutnya termasuk yang tertinggi di G20, menurut Suara.com.
| Periode | Pertumbuhan |
|---|---|
| Kuartal III 2025 | 5,04% |
| Kuartal I 2026 | 5,61% |
| Kuartal II 2026 | 5,29% |
| Semester I 2026 | 5,45% |
Optimisme pemerintah dan peringatan ekonom
Menteri Keuangan Suahasil Nazara yakin ekonomi tumbuh sekitar 5,5-5,6% pada paruh kedua 2026, menurut Katadata. Proyeksi khusus kuartal III belum diungkapkan.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus kuartal IV, mulai dari bantuan beras 10 kg untuk 33,24 juta keluarga, bantuan subsidi upah Rp300 ribu selama tiga bulan untuk 13,3 juta pekerja, hingga diskon tiket pesawat dan kapal saat Nataru, menurut Suara.com.
Di sisi lain, ekonom BCA David Sumual menilai penguatan dolar AS, potensi kenaikan suku bunga global, dan pelemahan daya beli membayangi ekonomi pada paruh kedua tahun ini, menurut Kontan. Pada kuartal III, rupiah juga melemah ke kisaran Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak naik di atas asumsi APBN.
Kenapa angka antarpejabat berbeda
Proyeksi pemerintah sendiri tidak selalu seragam. Menkeu Suahasil menyebut 5,5-5,6% untuk semester II, sementara pada Agustus, Menkeu sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat optimistis pertumbuhan semester II mendekati 6%. Target pertumbuhan akhir tahun yang ditetapkan sendiri 5,4%.
Perbedaan seperti ini wajar karena proyeksi diperbarui mengikuti data terbaru. Yang perlu dicermati adalah apakah realisasi kuartal III mendekati proyeksi tersebut atau justru meleset jauh.
Komponen yang menentukan PDB kuartal III
Konsumsi rumah tangga. Komponen terbesar PDB. Inflasi September 3,28% dan harga pangan yang naik bisa menekan daya beli, sementara bantuan sosial membantu menopangnya.
Investasi. Investasi hilirisasi tetap besar, tetapi gejolak pasar modal dan rupiah bisa membuat sebagian investor menunda rencana.
Belanja pemerintah. Belanja negara biasanya meningkat di paruh kedua tahun. Namun pernyataan soal kesiapan penghematan anggaran menunjukkan ruang fiskal makin dicermati, seperti kami ulas di kesiapan penghematan anggaran.
Ekspor neto. Harga komoditas dan permintaan mitra dagang seperti China ikut menentukan. Neraca dagang yang menyempit bisa mengurangi sumbangan ekspor neto.
Dampak bagi lapangan kerja dan daya beli
Angka pertumbuhan yang tinggi belum tentu langsung terasa di dompet warga. Yang lebih relevan bagi rumah tangga adalah sektor mana yang tumbuh. Pertumbuhan yang ditopang sektor padat modal, seperti tambang dan smelter, tidak menyerap tenaga kerja sebanyak sektor padat karya.
Data Kemnaker mencatat puluhan ribu pekerja melapor PHK sepanjang 2026, terutama di sektor tekstil dan alas kaki, seperti kami bahas di sektor rawan PHK. Karena itu, saat angka kuartal III keluar, perhatikan juga pertumbuhan sektor industri pengolahan dan perdagangan, bukan hanya angka utama.
Perbedaan antara ukuran ekonomi dan kesejahteraan per orang kami uraikan di ekonomi RI 7 besar dunia versi IMF.
Apa yang terjadi bila angka meleset
Bila pertumbuhan kuartal III jauh di bawah perkiraan, pemerintah biasanya menambah dorongan lewat belanja dan stimulus di kuartal IV. Bank Indonesia juga menjadikannya pertimbangan dalam keputusan suku bunga berikutnya.
Sebaliknya, angka yang lebih tinggi dari perkiraan bisa memperkuat kepercayaan investor terhadap rupiah dan pasar saham, meski faktor global tetap dominan.
Yang perlu dipantau saat rilis
- Angka pertumbuhan tahunan dan dibandingkan kuartal sebelumnya.
- Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, sebagai cermin daya beli.
- Pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto.
- Sektor industri pengolahan dan perdagangan yang banyak menyerap tenaga kerja.
- Respons rupiah dan pasar saham terhadap rilis.
Bagi rumah tangga, membaca rilis PDB tidak perlu rumit. Bila konsumsi rumah tangga tumbuh melambat, itu tanda belanja warga sedang tertahan. Bila investasi melambat, rencana pembukaan lapangan kerja baru bisa ikut tertunda.
Angka kuartal III juga akan menjadi bahan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan anggaran berikutnya. Cara membaca kondisi anggaran negara ada di cara membaca defisit APBN.



