Presiden Prabowo Subianto menyebut lima konsesi tambang dengan cadangan terbukti bernilai sekitar Rp5.400 triliun, lalu mengingatkan agar tidak bertepuk tangan terlalu cepat. Pesan itu relevan bagi investor: angka cadangan tambang yang besar belum tentu berarti nilai perusahaan yang besar.
Apa yang dikatakan Presiden
Dalam Rakornas TPAKD di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026, Presiden menyebut laporan soal lima konsesi dengan cadangan terbukti berdasarkan studi standar JORC. "Nilainya itu adalah 5.400 triliun, 300 miliar dolar, 5 konsesi," katanya, menurut Aktual.
Ia lalu mengingatkan, "Jangan-jangan tepuk tangan terlalu cepat, karena kekayaan itu masih di bawah tanah." Periskop juga melaporkan angka yang sama. Konsesi mana yang dimaksud tidak disebutkan.
Beda sumber daya dan cadangan tambang
Dalam standar pelaporan internasional seperti JORC Code, endapan mineral dan batu bara dibagi menjadi dua kelompok besar.
Sumber daya (resources). Endapan yang keberadaan, jumlah, dan kadarnya diperkirakan dari data eksplorasi. Berdasarkan tingkat keyakinannya, sumber daya dibagi menjadi tereka (*inferred*), tertunjuk (*indicated*), dan terukur (*measured*). Makin rapat data pengeboran, makin tinggi keyakinannya.
Cadangan (reserves). Bagian dari sumber daya tertunjuk dan terukur yang sudah terbukti layak ditambang setelah memperhitungkan faktor penambangan, pengolahan, ekonomi, pemasaran, hukum, lingkungan, sosial, dan pemerintahan. Cadangan dibagi menjadi terkira (*probable*) dan terbukti (*proved*).
| Kelompok | Kategori | Tingkat keyakinan |
|---|---|---|
| Sumber daya | Tereka (inferred) | Rendah |
| Sumber daya | Tertunjuk (indicated) | Sedang |
| Sumber daya | Terukur (measured) | Tinggi |
| Cadangan | Terkira (probable) | Layak, keyakinan sedang |
| Cadangan | Terbukti (proved) | Layak, keyakinan tinggi |
Jadi, sumber daya tereka belum bisa langsung disebut cadangan. Biasanya, untuk naik kelas dari sumber daya menjadi cadangan, perusahaan perlu pengeboran tambahan dan studi kelayakan yang memakan waktu serta biaya. Angka sumber daya yang besar sering dipakai dalam promosi, padahal belum terbukti layak ditambang.
Apa itu standar JORC dan KCMI
JORC Code disusun oleh Joint Ore Reserves Committee di Australia dan menjadi salah satu acuan internasional. Laporan berbasis JORC harus disusun atau disetujui oleh *Competent Person*, yaitu ahli dengan pengalaman relevan yang bertanggung jawab atas angkanya, menurut JORC Code.
Di Indonesia ada padanannya, yaitu Kode KCMI yang disusun komunitas profesi geologi dan pertambangan. Prinsipnya sama: transparan, material, dan disusun orang yang kompeten.
Bagi investor, keberadaan standar ini penting karena angka yang dilaporkan bisa ditelusuri asal-usulnya. Laporan yang tidak menyebut standar, kategori, atau nama orang yang bertanggung jawab patut dibaca dengan lebih hati-hati.
Kenapa nilai cadangan bukan nilai perusahaan
Angka seperti Rp5.400 triliun biasanya dihitung dari volume cadangan dikali harga komoditas. Hitungan ini belum memasukkan banyak hal.
- Biaya penambangan dan pengolahan. Menggali, mengangkut, dan mengolah hasil tambang memakan biaya besar per ton.
- Infrastruktur. Jalan, pelabuhan, listrik, dan smelter bisa membutuhkan investasi triliunan rupiah sebelum produksi.
- Pajak dan royalti. Sebagian pendapatan menjadi hak negara.
- Waktu. Dari eksplorasi sampai produksi bisa butuh bertahun-tahun. Uang yang baru diterima sepuluh tahun lagi bernilai lebih kecil hari ini.
- Harga komoditas. Cadangan yang layak saat harga tinggi bisa tidak layak saat harga turun.
Karena itu, nilai perusahaan tambang lebih tepat dibaca dari kemampuan menghasilkan laba dan arus kas. Rasio dasarnya ada di cara membaca PER dan PBV.
Contoh hitungan sederhana
Bayangkan sebuah konsesi ilustrasi dengan cadangan 100 juta ton dan harga jual Rp1 juta per ton. Nilai kotornya Rp100 triliun. Angka ini yang sering disebut sebagai nilai cadangan.
Namun bila biaya penambangan, pengangkutan, pengolahan, royalti, dan pajak mencapai Rp800.000 per ton, margin yang tersisa hanya Rp200.000 per ton atau Rp20 triliun. Bila produksi hanya 5 juta ton per tahun, cadangan itu baru habis ditambang dalam 20 tahun.
Uang yang diterima belasan tahun lagi bernilai jauh lebih kecil hari ini. Ditambah biaya membangun tambang di awal, nilai wajar konsesi itu bisa hanya sebagian kecil dari Rp100 triliun. Angka dalam contoh ini rekaan untuk memudahkan, bukan data konsesi tertentu.
Cara membaca klaim cadangan di laporan emiten
- Cek apakah angkanya sumber daya atau cadangan, dan kategorinya.
- Cari nama *Competent Person* dan tanggal laporan. Laporan lama bisa tidak lagi relevan.
- Bandingkan dengan produksi tahunan. Cadangan besar tanpa produksi berarti nilainya masih potensi.
- Cek apakah laporan cadangan sudah memperhitungkan izin, lahan, dan persetujuan lingkungan yang dibutuhkan.
- Cek status izin. Konsesi tanpa aktivitas lebih dari dua tahun kini terancam dicabut, seperti dibahas di izin tambang nganggur dicabut.
Risiko membeli saham karena klaim cadangan
Promosi angka besar. Pengumuman sumber daya atau cadangan baru kadang memicu lonjakan harga sesaat. Pola harga yang tidak didukung kinerja kami bahas di ciri saham gorengan.
Revisi angka. Cadangan bisa direvisi turun bila hasil pengeboran lanjutan atau harga komoditas berubah.
Dilusi. Untuk membangun tambang, emiten kecil sering perlu dana tambahan, misalnya lewat penambahan modal yang bisa mengurangi porsi kepemilikan pemegang saham lama.
Risiko kategori yang tertukar. Dalam materi promosi, istilah sumber daya dan cadangan kadang dipakai bergantian. Pastikan Anda membaca kategori yang tertulis di laporan resmi, bukan di presentasi atau unggahan media sosial.
Risiko izin dan lingkungan. Konsesi bisa menghadapi masalah tumpang tindih lahan, penolakan warga, atau persyaratan lingkungan yang menunda produksi.
Pertanyaan kuncinya tetap sama: berapa yang sudah ditambang, dijual, dan menjadi kas, bukan berapa yang masih di bawah tanah.



