Bursa Efek Indonesia mencatat sembilan perusahaan dalam antrean penawaran saham perdana (IPO) per 23 Oktober 2026, meski pasar masih bergejolak setelah isu MSCI. Bagi investor ritel, saham IPO sering tampak menarik, tetapi risikonya juga khas.

Antrean IPO di BEI

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyebut sembilan perusahaan berada dalam pipeline IPO per 23 Oktober 2026, dengan tujuan memperluas basis perusahaan tercatat, menurut ANTARA.

Jumlah ini naik dari tujuh perusahaan pada akhir Agustus, yang saat itu didominasi sektor kesehatan, menurut Infobank. Rincian sektor dan ukuran aset untuk antrean terbaru belum kami temukan.

Masuk pipeline belum berarti pasti IPO. Perusahaan bisa menunda atau membatalkan rencana bila kondisi pasar tidak mendukung.

Kenapa tetap IPO saat pasar bergejolak

Proses IPO memakan waktu berbulan-bulan, mulai dari penyusunan prospektus, uji tuntas, hingga pernyataan efektif dari OJK. Banyak perusahaan sudah memulai persiapan jauh sebelum gejolak pasar terjadi.

Sebagian perusahaan juga membutuhkan dana untuk ekspansi atau membayar utang, sehingga tetap melanjutkan rencana meski harga penawaran mungkin harus lebih rendah. Bagi investor, harga IPO yang lebih rendah bisa terlihat menarik, tetapi tetap perlu dinilai dari kinerja dan prospek perusahaan.

Pasar yang bergejolak juga membuat permintaan saham IPO lebih sulit diprediksi. Saham yang dibeli saat penawaran bisa langsung turun bila sentimen pasar memburuk pada hari pencatatan.

Yang dicek di prospektus saham IPO

Penggunaan dana. Dana untuk ekspansi usaha berbeda artinya dengan dana untuk melunasi utang atau membayar pemegang saham lama. Porsinya biasanya dirinci di prospektus.

Kinerja keuangan. Lihat pendapatan, laba, dan arus kas beberapa tahun terakhir. Perusahaan yang baru untung satu tahun menjelang IPO perlu dicermati lebih teliti.

Pemegang saham dan pengendali. Siapa pemilik utama, dan apakah ada pihak yang menjual sahamnya dalam IPO.

Porsi saham publik. Berapa persen saham yang dilepas ke publik. Porsi kecil membuat peredaran saham tipis, sehingga harga mudah bergerak tajam. Isu ini kini disorot MSCI, seperti kami jelaskan di free float saham dan MSCI dan saham HSC.

Valuasi. Bandingkan harga penawaran dengan laba dan nilai buku perusahaan, serta dengan emiten sejenis yang sudah tercatat.

Contoh membaca porsi saham publik

Bayangkan perusahaan ilustrasi yang melepas 10% sahamnya ke publik dalam IPO, sementara 90% tetap dipegang pemilik lama. Bila sebagian besar saham publik itu dibeli segelintir investor besar, saham yang benar-benar beredar di pasar bisa jauh lebih kecil lagi.

Kondisi seperti ini membuat harga mudah naik atau turun tajam dengan transaksi kecil. Prospektus biasanya juga mencantumkan apakah ada pembatasan penjualan bagi pemegang saham lama selama periode tertentu setelah IPO. Angka dalam contoh ini rekaan untuk memudahkan.

Cara ikut e-IPO dan penjatahan

Pemesanan saham IPO dilakukan lewat sistem e-IPO atau aplikasi sekuritas yang terhubung, selama masa penawaran umum. Dana di rekening dana dikunci sesuai jumlah pesanan.

Bila permintaan melebihi saham yang ditawarkan, penjatahan dilakukan dengan aturan tertentu, sehingga investor sering mendapat jauh lebih sedikit dari yang dipesan. Dana yang tidak terpakai dikembalikan setelah penjatahan.

Setelah tercatat, saham diperdagangkan seperti saham lain. Batas penurunan harian yang berlaku saat ini 7%.

Perhatikan juga jadwal penawaran dan pencatatan. Masa penawaran umum biasanya beberapa hari kerja, lalu saham tercatat di bursa beberapa hari setelah penjatahan. Selama jeda itu, dana yang dikunci tidak bisa dipakai untuk transaksi lain.

Risiko membeli saham IPO

Harga turun setelah euforia. Lonjakan di hari pertama sering diikuti penurunan dalam beberapa bulan, terutama bila valuasi awal terlalu tinggi.

Peredaran tipis. Saham dengan porsi publik kecil rawan bergerak tidak wajar dan bisa terkena status UMA atau suspensi, seperti dibahas di saham kena UMA atau disuspensi.

Informasi terbatas. Perusahaan baru tercatat belum punya rekam jejak di bursa, sehingga investor hanya mengandalkan prospektus. Laporan keuangan dalam prospektus juga bisa disusun menjelang IPO, sehingga tren beberapa tahun lebih berguna daripada satu tahun terakhir.

Ikut-ikutan. Saham IPO yang ramai dibicarakan di media sosial bisa menarik pembeli tanpa analisis. Ciri pergerakan yang patut dicurigai ada di ciri saham gorengan.

Langkah paling sederhana saat ada IPO yang menarik perhatian Anda: unduh prospektusnya, baca bagian penggunaan dana dan faktor risiko, dan tentukan batas dana yang siap Anda tanggung bila harga turun.